Minggu, 29 Januari 2012

CERPEN "Mencari Lubang Kehidupan"


Mencari Lubang Kehidupan

Perhatianku tak tertuju pada waktu yang terus berjalan, dengan kesenangan yang sedang aku rasakan bersama teman-teman dan Shandy adikku. Matahari yang sudah mulai menghilangpun tak dapat menghentikan permainan petak umpet yang sedang kita lakukan sekarang ini. Akupun terus berlari untuk mencari tempat persembunyian yang jauh dan aman. Tiba-tiba aku tercengang oleh suara Bresth, “Stop!!! Selesai. Aku harus pulang!!”
Aku yang mendengar itu langsung menampakkan diri dari tempat persembunyianku, “Ah, Bresth. Lagi asyik nih, bentar lagi aja. Please....!!!” Tak hanya aku yang sudah mulai terhipnotis atas kesenangan permainan ini, Ghasper dan Percy pun juga demikian. “Ia Bresth, lima menit lagi aja!”
“Sorry guys. Aku tidak bisa, buka mata kalian. Matahari sudah tidak ada, ini sudah malam. Kita harus pulang, kata nenekku gak boleh main menjelang maghrib.” “Ok, ok kita pulang”, sahutku untuk menghindari perdebatan.
“Tapi tunggu dulu, Shandy dimana ya?” aku teringat pada Shandy, yang juga ikut bermain petak umpet tapi sekarang dia tidak berkumpul dengan kita.
“Aku gak tahu, kamu Bresth?” kata Percy. “ Sama.” Jawab Bresth.
“Ok. Siapa yang terakhir kali melihat Shandy?” tanyaku.
“Tadi dia terakhir kali sama aku nyari tempat untuk sembunyi. Tapi aku berhenti dibalik batu itu dan Shandy terus berlari ke utara.” Kata Ghasper.
Lalu kita semua berpencar untuk mencari Shandy. Aku menuju ke arah utara seperti yang tadi Ghasper katakan. Tak tampak jelas karena hari sudah malam, tapi aku seperti melihat pintu di arah sebuah Trombil. Dalam bangsa kita trombil sering diartikan sebuah tempat yang menyerupai gua, tapi tempat itu berpenghuni.
Aku merasa seperti terseret untuk memasuki pintu itu. Tapi belum sampai melangkah jauh, teman-temanku sudah lebih dulu menyeret aku untuk pulang dan meninggalkan Shandy.
Aku yang merasa sangat bersalah pada Rosallie, ibu Shandy, tidak berani menampakkan diri di muka pintu rumah sendirian. Apalagi ayahku sedang pergi ke luar kota sampai musim semi nanti.
            Sesampainya dirumah hal yang aku khawatirkan akhirnya terjadi. “Callista, mana Shandy?” tanya Rosallie. Perasaan takut yang aku rasakan terhadap Rosallie membuat mulutku terbungkam tak bisa berkata jujur. Kalau saja ayah ada dirumah, pasti masih ada yang membela aku dihadapan ibu tiri yang begitu kejam ini, yang selalu memperlakukan aku seperti hewan. Semua ketakutan itu membuat aku tidak dapat berkata apa-apa lagi, apalagi itu sudah mengenai Shandy. Karena Shandy adalah anak kesayangan Rosallie, yang artinya dia adalah saudara tiriku. Biarpun begitu Shandy tak pernah menganggap aku sebagai saudaranya. Sifat untuk selalu berkuasa telah diwarisi Shandy dari ibunya.
Saat Rosallie menatap kebelakang, itulah saat yang tepat buat aku menerobos masuk dan langsung menuju ke kamar. Rosallie pun terus mengejar aku, ia terus berteriak-teriak di depan pintu kamarku sambil terus memukulinya, itu membuat perasaan takut seperti semakin menggerutui telingaku. Akhirnya kuputuskan untuk mencari Shandy. Sebelum dia benar-benar tersesat di jalan dan ayahku mengetahui akan hal ini. Karena aku yakin dengan segera pasti Rosallie akan beritahu ayahku akan hal ini.
            Baru lima belas menit aku ada dirumah, tapi sekarang aku harus pergi lagi untuk mencari adik tiri yang tidak pernah mengakui aku sebagai saudaranya dan tidak pernah menghargai aku sedikitpun. Apa tindakanku untuk menolong orang yang telah berbuat jahat ke aku itu salah? Sebaikknya aku membiarkannya agar dia benar-benar lenyap dari hari-hariku. Jika bukan karena ayahku Dave, yang terlalu terhipnotis akan kecantikan Rosallie. Aku akan benar-benar membiarkan Shandy untuk lenyap selamanya.
            Aku kembali lagi pada pintu yang aku temui di arah menuju trombil yang tadi sempat aku lihat. Tapi aku tidak menemukan pintu itu lagi, trombil yang tadi aku lihatpun juga sudah menghilang tanpa bekas. Aneh sekali. Aku mulai merasa takut berada ditempat ini, pekarangan kecil dibelakang rumah, tapi terasa seperti hutan lebat jika kita memasuki wilayahnya.
            Aku berjalan mundur sambil terus menatapi tempat bekas trombil itu. Tapi semakin aku terjauh dari tempat itu, aku mulai merasa jika langkah kaki yang berjalan mundur tanpa mata melihat jalan membuat aku kehilangan jalan untuk pulang. “Aarrggghhhh.........!!!!”
            Keesokan harinya, saat mataku terbuka.  Aku sudah berada ditempat yang berbeda, ini seperti bukan dipekarangan belakang rumah. Aku sedang menjalani perawatan layaknya dirumah sakit. Aku tidak ingat apa yang terjadi semalam kepadaku, sampai-sampai tanganku diperban seperti ini. Aku hanya ingat jika malam itu aku sedang mencari Shandy adikku, lalu aku melihat hal aneh dan berjalan mundur. Tapi aku melihat hal apa itu? Aku lupa. Lalu yang aku rasakan hanyalah seperti mimpi buruk, aku jatuh pada sebuah lubang yang sangat dalam. Ia, aku ingat itu. Lalu setelah aku bangun dari mimpi burukku itu, aku sudah berada ditempat ini. Tapi aku benar-benar terluka, berarti itu bukan mimpi. Ini kenyataan? Lalu tempat apa ini?
            Aku beranjak dari tempat tidurku, aku pergi ke jendela yang ada di kamarku, sebenarnya tujuanku untuk mendapat udara pagi yang segar dan sedikit mencari tahu tentang tempat ini, tapi yang aku dapatkan justru suatu yang sangat aneh, dan itu hampir membuatku jatuh pingsan. Karena terlalu takut, aku berteriak sangat keras seperti orang histeris. Lalu diluar ruangan terdengarlah suara derap langkah kaki yang menuju ke kamarku. Aku takut jika itu adalah langkah kaki makhluk jelek seperti yang tadi aku lihat dari jendela. Iya, makhluk itu memang terlihat sangat jelek dan aneh. Bukan manusia, nampaknya seperti alien luar angkasa. Derap kaki yang semakin mendekat membuat aku menutup mataku dengan kedua telapak tangan yang masih terlihat pucat ini. Akhirnya suara pintu terbuka pun sudah terdengar.
            “Putri sudah siuman? Apakah Putri baik-baik saja?” Aku mendengar suara itu, seperti suara manusia normal. Lalu akupun membuka mata, “Ampun, jangan sakiti aku!” kataku setelah melihat makhluk itu, ternyata itu memang makhluk aneh tadi, tapi dia dapat berkata layaknya manusia.
            “Jangan takut Putri, kami tidak akan melukai Putri. Kami akan terus menjaga Putri.” Kata makhluk aneh itu. “Lalu siapa kamu?” tanyaku.
            “Saya Halfer. Saya seperti alien luar angkasa, tapi sebenarnya saya adalah sebangsa kerdil. Dulu ibu saya adalah seorang kerdil dan ayah saya adalah jelmaan seekor rusa.”
            “Aneh, di dunia ini tidak mungkin ada yang seperti itu. Aku tidak percaya.” Aku sangat heran dengan ceritanya.
            “Putri boleh tidak percaya kepada saya, tapi nanti Putri akan tahu sendiri.”
            “Namaku Callista, bukan Putri. Jadi kamu panggil aku Callista aja. Apa kamu bisa menceritakan apa yang terjadi kepadaku? Kenapa aku bisa berada ditempat ini? Dan apakah itu artinya semalaman aku berada disini?”
            “ Semalam? Putri sudah berbaring di tempat tidur ini tak sadarkan diri selama 3 hari.”
            “Tiga hari?” tanyaku sangat kaget.
            “Ia, dan yang tahu cerita kenapa Putri ada disini adalah pangeran, bukan saya.”
            Manusia kerdil itu akhirnya meninggalkan aku begitu aja tanpa memberi aku kesempatan untuk bertanya lagi. Aku sebenarnya ingin keluar dari tempat ini, dari tempat yang aneh dan memiliki penghuni yang aneh juga. Tapi aku tidak dapat melakukan hal itu, karena untuk pergi keluar dari kamar ini saja aku masih sangat takut jika diluar sana ada hal yang lebih aneh dari cerita kerdil tadi, maksudku cerita Halfer. Selain itu aku juga gak tahu jalan keluar dari tempat ini itu dimana. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu perkembangannya sampai esok hari.
            Mentari membuka hari dan menerombos masuk kedalam kamarku melalui jendela. Akupun mulai beranjak dari kasur yang tidak begitu empuk ini. Lalu aku berjalan menuju pintu dan memberanikan diri untuk mengangkat tanganku ke gagang pintu kamar untuk membukanya. Tapi saat aku membukanya, “ Ahh,,,!!!”
            “Mau kemana Putri? Memangnya Putri sudah baikan?” Aku sangat kaget sekali dengan kehadiran suara yang datangnya tiba-tiba sekali. Suara yang berasal dari pria ini, sungguh terlihat begitu mempesona, tampan sekali.
            “Siapa kamu? Jangan coba-coba sentuh aku.” Kataku sambil menghindari tangannya yang mengarah kebahuku.
            “Tenang Putri, aku Pangeran Edward. Aku yang menemukanmu dan membawamu kesini,” Katanya.
            “Jadi kamu pangeran itu? Ok, thanks udah nolong aku, tapi sekarang aku mau pulang.” Kataku dengan raut wajah sedikit sebal.
            “Ikutlah denganku mencari udara segar.” Ajaknya sambil memegang tanganku dengan sedikit tenaga.
            “Ok, aku bisa jalan sendiri. Juga jangan panggil aku Putri!” kataku kali ini dengan nada sedikit membentak.
            Lalu aku diajak berkeliling ke taman belakang bangunan ini. Ternyata bangunan ini bukanlah rumah sakit seperti anggapanku, ini hanyalah bangunan tua, bahkan terlihat sangat tua sekali. Taman terlihat indah, bunga-bunga berseri dan tersenyum manis, seakan-akan mereka itu hidup. Sesampainya ditengah taman, Pangeran Edward mengajakku duduk disebuah bangku yang kecil. Pangeranpun mulai bercerita tentang kehidupannya.
            “Tahukah kamu mengapa disini banyak makhlup hidup yang bentuknya aneh seperti Halfer?” tanya Pangeran.
            “Enggak. Kamu kenal Halfer?” tanyaku.
            “Ia, karena dia adalah rakyatku. Aku mengenal semua rakyatku.”
            “Rakyat? Pangeran? Makluk aneh? Sebenarnya ini tempat apa sih? Aku binggung dengan semua ceritamu?” tanyaku marah.
            “Ini bukanlah dunia diamana para manusia normal tinggal, sekarang kamu sudah berada di dunia yang lain. Bukan lagi di duniamu yang dulu. Waktu itu aku menemukanmu sudah tak sadarkan diri di suatu jurang, dan aku rasa jurang itulah yang membawamu masuk ke duniaku ini. Ini adalah dunia tempat makluk hidup selain manusia, karena Tuhan tak hanya menciptakan satu makhluk saja. Janganlah takut dengan kami. Biarpun kita berbeda, tapi kita masih mempunyai pikiran dan hati nurani yang sama. Selain ada aku dan rakyatku, disini juga ada kerajaan lain. Kerajaan Ghutesr, dipimpim oleh Raja Emment. Raja Emment dan rakyatnya selalu menyerang kesini dengan tiba-tiba. Mereka tidak pernah membiarkan rakyatku hidup dengan tenang, karena mereka iri pada ketentraman kerajaanku. Oleh karena itu aku membawamu kesini, sebalum kamu ditemukan oleh rakyat Kerajaan Ghutesr. Karena jika kamu ditemukan oleh mereka, kamu akan dipersembahkan kepada Ratu Kegelapan yang selama ini mereka puja.”
            “Lalu kenapa aku selalu dipanggil Putri? Padahalkan aku bukanlah seorang Putri?”
            “Mereka memanggil kamu Putri karena datang kesini bersamaku. Selain itu para rakyatku juga sudah rindu akan sosok Putri yang cantik seperti kamu. Jadi mereka mengangapmu sebagai Putri yang sudah mereka nanti-nantikan selama ini.” Kata Pangeran Edward.
            Sekarang, sudah genap satu bulan aku berada ditempat ini. Aku sudah mulai tidak yakin jika aku dapat kembali lagi ke duniaku yang dulu. Disisi lain, sekarang aku disini sudah dianggap Putri oleh semua rakyat, dan aku gak mungkin meninggalkan rakyat yang begitu mencintai aku. Biarpun mereka adalah makhluk yang aneh, tapi mereka sangat baik kepadaku. Disini aku hanya bisa menyumbangkan sedikit dari keahlianku, yaitu menolong rakyat yang sakit dan terluka karena peperangan. Karena disini tidak ada dokter dan peralatan medis seperti yang ada di duniaku. Jadi para korban perang sulit untuk disembuhkan, hanya dengan menggunakan obat-obatan tradisional saja.
            Aku merasa jika pertolonganku sangatlah dibutuhkan oleh mereka, tapi biarpun begitu, aku selalu tetap menginginkan agar suatu saat aku dapat kembali lagi keduniaku. Saat aku berjalan-jalan dihutan dengan Pangeran Edward sekaligus untuk mencari bahan untuk obat-obatan, aku sering mencuri waktu untuk mencari suatu lubang yang kira-kira dapat membawa aku kembali kedalam kehidupan manusia. Tapi sudah kesekian kalinya belum juga aku menemukannya.
            Saat kita kembali kekerajaan, para rakyat sudah berkumpul di depan pintu gerbang. Aku tidak mengerti apa maksud dari itu semua. Tapi Pangeran Edward mengatakan jika itu pertanda akan ada serangan dari Kerajaan Ghutesr. Maka kita harus bersiap-bersiap. Aku yang tak mengerti sama sekali akan arti peperangan ini hanya merasa takut dan bingung apa yang harus aku lakukan. Musuhpun sudah semakin dekat, aku tak bisa berbuat apa-apa.
            “Callista, lari ke hutan!!!” perintah Pangeran Edward.
            “Tapi, aku tidak bisa meninggalkan kalian sendiri!” “ Jangan, hiraukan kami. Cepat selamatkan dirimu!!”
            Akupun menuruti perintah Pangeran Edward. Aku terus berlari menuju hutan dengan sekencang-kencangnya. Saat tiba pada suatu air terjun, aku merasa haus, dan aku meminum air dari situ.
            “Callista, kembalilah! Bawalah air ini, karena ini akan menyelamatkan rakyatmu!” aku mendengar bisikan suara itu. Sepertinya suara itu berasal dari dalam air terjun ini. Tanpa pikir panjang akupun mengambil sebotol kecil air dari tempat itu.
Seketika, mataku mulai sadar jika disebelah air terjun terdapat lubang besar, dan aku rasa lubang itulah yang aku cari selama ini. Inilah kesempatanku untuk kembali ke duniaku yang sebenarnya. Tapi aku harus menyelamatkan rakyatku, aku sangat bingung untuk memilih. Apa yang harus aku putuskan? Menyelamatkan nyawa rakyatku? Atau kembali keduniaku seperti yang sudah aku dambakan dari dulu? Tapi hatiku lebih tergerak untuk menyelamatkan nyawa mereka dari pada mementingkan keegoisanku. Karena dulu mereka juga sudah menyelamatkan aku. Selamat tinggal kehidupan nyata.
            Akupun terus berlari menuju kembali ke kerajaan, aku sangat kelelahan, tapi aku harus segera sampai dikerajaan. “STOP......!!!!!!” teriakku saat Halfer meletakkan pedangnya diatas dada musuh.
            “Kenapa Putri?” tanya Halfer itu.
            “Dia adikku.”
            “Callista?” Pangeran Edward meoleh kearahku. Pada saat itu, musuh memanfaatkan kesempatan untuk kabur karena mereka sudah kalah.
            “Callista, ka..kak..ku.” kata adikku dengan terputus-putus kemudian dia pingsan. Aku yang teringat telah membawa air dari air terjun tadi segera memberikannya kepada adikku.
            “Halfer, bantu aku untuk memberikan air ini ke semua rakyat yang terluka.” Kataku kepada Halfer. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Pangeran.
            “Pangeran ini adikku, Shandy. Karena dia jugalah aku berada ditempat ini, karena dulu aku sedang mencari Shandy yang hilang, lalu aku jatuh ke tempat ini.” Semua terdiam.
            Shandy juga tak kunjung sadarkan diri. Aku sudah kehabisan air mata karena terus menangisi Shandy, aku tidak ingin jika Shandy meninggal, karena biarpun begitu, dia adalah adikku.
            “Kakak?” suara Shandy terdengar sangat pelan saat baru sadarkan diri.
            “Shandy? Kamu sudah sadar? Syukurlah, kakak gak mau kehilangan kamu lagi untuk yang kedua kalinya. Kamu tadi panggil aku apa?”
            “Kakak?”
            “Gak dengar? Kurang keras, apa?”
            “Kakak.” Inilah untuk pertama kalinya Shandy memanggil aku dengan panggilan kakak. Aku sangat senang sekali, aku sudah lama sekali menantikan kata-kata itu keluar dari mulut adik tiriku yang bandel ini.
            “Kenapa kamu menyelamatkan aku? Kenapa kamu gak biarin aku mati dibunuh? Akukan selama ini sudah sangat jahat ke kamu.” Kata Shandy sambil menatapku dengan sangat tajam.
            “Ssstt, kamu ngomong apa sih? Biarpun kamu sudah jahatin aku, biarpun kamu hanya saudara tiriku, yang namanya saudara, akan selamanya menjadi saudara, dan aku sangat menyayangimu Shandy.”
            “Terima kasih kak, aku sayang kamu. Maafkan aku atas kelakuanku selama ini.”
            “Sama-sama adikku yang bandel, itu sudah menjadi kewajiban setiap manusia untuk saling menolong dan peduli terhadap orang lain. Apa lagi kamu adikku.”
            “Biarpun hanya adik tiri?”
            “Ia, karena kita tidak boleh membeda-bedakan orang untuk ditolong. Jadi kita harus peduli terhadap sesama kita, entah itu siapa orangnya. Ngerti?”
            Satu minggu kemudian, setelah Shandy merasa sudah sehat. Kami berempat pergi berkelana dihutan. Aku, Pangeran Edward, Shandy, dan Halfer. Kita berlomba menaikki kuda. Aku yang teringat akan lubang kehidupan di tepi air terjun, membalikkan arah kuda yang aku naiki dan pergi ke air terjun itu.
            “Pangeran kita kearah air terjun.” Kami semuapun langsung berbalik arah. Setelah sampai di air terjun, aku masih mendapati lubang yang dulu.
            “Callista apa yang kamu lakukan?” tanya Pangeran Edward.
            “Pangeran, ini jalan yang bisa membawaku pulang. Aku sudah menemukannya. Aku harus pulang bersama Shandy. Karena orang tua kami pasti sudah mencari kami.”
            “Jadi kamu akan meninggalkan aku dan juga semua rakyatmu?”
            “Maafkan aku pangeran, tapi tugasku sudah selesai. Jadi aku harus pulang. Shandy, ayo kita pulang. Kasihan ayah dan Rosallie,” kataku sambil memegang tangan Shandy.
            “Putri Callista, aku mencintaimu. Tinggalah bersamaku Putri!! Aku mohon..!!” Kata Pangeran Edward sambil mencium tanganku.
            “Aku juga mencintaimu Pangeran. Tapi aku harus pergi, maafkan aku. Selamat tinggal.” Akupun masuk kedalam lubang itu bersama dengan Shandy.
            “Callista, Shandy, Bangun. Kenapa kalian tidur di pekarangan?” lalu akupun terbangun, ternyata hari sudah pagi, dan itu tadi suara tukang kebunku yang akan membersihkan pekarangan.
            “Hey Shandy bangun, kita sudah sampai rumah.” Kataku sambil mengoyakkan tangan Shandy.
            “Kita kembali ke dunia nyata kak? Yes, aku bebas. Yuhui,,,!!!”
            “Hahahahaaaaa,,,,,” kita tertawa bersama-sama dalam kebahagiaan dan kebebasan.
            “Ayo kita pulang, karena jika tidak, Rosallie akan memutuskan leherku sekarang juga.” Kataku.
            “Hahaaa, si nenek sihir berambut pirang? Takut banget? Nyantai aja lagi kak, kan ada sang penolong baru.” Kata Shandy sok gaya.
            “Ibu sendiri dibilang nenek sihir, kuwalat loh!”
            “Emang iya kog, buktinya dia jahat banget sama kakak.”
            Sesampainya dirumah, kita membuka pintu depan dengan sangat pelan. Berharap jika Rosallie tidak tahu kita pulang. Tapi sepelan apapun suara pintu itu, Rosallie akn tetap mengtahuinya. Karena Rosallie dan Ayah sekarang berada diruang tamu dan pandangannya tepat tertuju pada kami. Aku sudah pasrah jika mereka akan memarahi aku, karena biarpun bagaimana akulah yang bersalah dalam hal ini.
            Tapi keajaiban besar terjadi, mereka tidak memarahi aku, justru mereka yang minta maaf. Karena mereka berfikir jika kita selama ini meninggalkan rumah karena kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian orang tua sehingga kami kabur, tanpa pikir panjang kamipun memanfaatkan itu sebagai alasan kami pergi. Jadi antara aku, Shandy dan dunia lain dibalik pekarangan belakang rumah, hanya kita yang tahu. Ssstt.
           

SELESAI

oleh : oktafia putri k.

2 komentar:

  1. pengeran.x siapa tu????


    hehehe




    cerita.e bagus nulis lagi donk???

    BalasHapus
  2. makasiih ....
    lok udah ada inspirasi yg bagus and da wktu .. pasti Q nulis lagi..

    BalasHapus