Minggu, 26 Februari 2012

CERBER " CABLAK - catatan blak-blak'an-"

B

Jarum jam melangkah dengan gemulainya, terpasang rapi didalam bingkai kotak yang menempel didinding muka kelas, tangan-tangan kecilnya terpanah ke angka dua, berarti sekarang waktunya bel pulang sekolah, karena sekarang sudah jam 02.00 siang. Setelah bel pulang berbunyi, langsung kupanggul tasku dan berjalan pulang tanpa pamitan dulu ke Vian karena aku sudah amat kelaparan. Keuntunganku punya kostan yang dekat dengan sekolahan, jadi bisa cepat sampai dan segera menyantap makan siangku.
“Siang mbak!!!” ada tangan yang menepuk pundakku dari belakang. Sebel banget aku, pulang buru-buru ingin segera sampai rumah tapi masih ada lampu merah yang menyebabkan aku terpaksa menghentikan kakiku melangkah. Ku balikkan wajahku dengan muka kecut, tapi setelah kulihat pemilik tangan itu tadi, seketika mukaku langsung berubah seratus persen menjadi sumringah dan lesung pipiku menampakkan dirinya dengan malu-malu. Bagaimana tidak akan sumringah jika yang berhadapan denganku sekarang adalah kembarannya Justin Bieber. Bayangkan saja betapa gantengnya dia, senyumnya yang manis bagaikan telaga madu, imutnya, ya Tuhan aku tidak bisa mendiskripsikannya lagi, aku sudah kehabisan kata-kata saat bertatap muka dengannya. Jantungku rasanya berhenti memompa darah, dan hatiku rasanya seperti copot hilang entah kemana. Cowok ini cakep banget, abang Sigit Purnomo (Pasha) yang aku idolakan dari dulu tidak apa-apanya dibanding dia.
“I....ii....iya.... apa?” tidak, mulutku seperti di lem sampai tidak ada kata-kata yang terucap dengan benar, aku bingung harus berkata apa, inikah yang dinamakan ‘salting’ ???
“Gini mbak, saya mau tanya alamat ini. Saya orang baru disini, kemarin saya baru pindahan dari Bandung. Itu rumah saya.” Dia mengangkat telunjuknya kesebuah bangunan besar ditepi jalan, yang aku yakini kalau itu bukanlah sebuah rumah, tapi sebuah hotel. Kalau itu memang rumahnya, berarti cowok ini anak orang kaya dong. Gila,,, sempurna banget hidupnya, pasti dia idola semua cewek se-Bandung dulu. Gimana bukan idola semua cewek, dia Justin Bieber banget, sudah cakep kaya lagi.
“Iya, alamat mana? Saya bisa maklum kok, kan kamu memang orang baru disini.” Jawabku dengan sedikit lancar dengan pemikiran positif bahwa yang ada didepanku sekarang bukanlah cowok jadi-jadian. Kemudian dia mengulurkan selembar kertas, dan dengan segera akupun menyambut kertas dari tangannya itu, berharap jika jemariku bisa bersentuhan dengan jemarinya.
“Jalan Indah Permata No. 5, bukannya ini alamat kostanku? Iya benar ini alamat tempat tinggal baruku.” Gumamku dalam hati.
“Iya aku tahu alamat ini, memangnya kenapa?” tanyaku penasaran kenapa cowok seganteng ini mencari kostan tempat aku tinggal. “Itu rumah tante saya mbak. Saya mau main kesitu.” Terangnya singkat.
“Oh iya, kebetulan dong kalau gitu, saya kost disitu. Kalau mau main kesana bareng sama aku aja, ini aku juga mau pulang.”
Yess!! Dapat kesempatan jalan sama artis Bandung nih. Aku tidak akan lewatin kesempatan ini. Dia seperti emas permata yang ada didepan mata dan aku harus memilikinya.
“Namanya siapa mas?” lakuku sok imut, tapi sebenarnya aku memang imut sih. Hehehe,,,
“Oh iya, sampai lupa. Aku Andre, lengkapnya Frasiscus Andre Pratama.” Tangannya terulur ke depanku dan tanpa aku sia-siakan dengan lama tangankupun ku ulurkan untuk menghampirinya.
“Aku Callista Vialine Cristy, tapi cukup dipanggil Via saja.” Lalu kutatap kembali tebaran aspal didepankku, begitupun dengan Andre. Rumah yang kita tuju sudah ada didepan mata, tinggal 10-15 langkah lagi. Berarti sebentar lagi aku akan berpisah dengannya. Kira-kira bisa ketemu lagi gak ya?


17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, baru seminggu gak ketemu Andre kok rasanya sudah kangen banget ya, seperti sewindu gak ketemu. Padahal aku bertetangga sama dia, tapi kenapa aku gak bisa lihat batang hidungnya setiap hari. Apa mungkin dia kembali ketanah kelahirannya? Di Bandung? Tidak, tidak, jangan sampai ini terjadi, aku tidak mau jika kemarin menjadi pertemuanku yang pertama dan terakhir dengannya. Aku harus cari tahu tentang ini. Apa aku harus tanya ke B.Rose? ah, gak mungkin, malu dong. Tapi aku juga tidak tahu nomor handphonenya. Apa aku harus kerumahnya untuk mencari informasi tentang Andre? Tidak, dimana harga diriku?
Aku tidak ingin memikirkannya lagi, karena dia aku sampai lupa belum makan dari tadi pagi. Kebetulan sekarang hari Minggu, aku mau pergi cari makan dipasar minggu aja sambil menghilangkan nama Andre dari pikiranku.
Aku melangkahkan kakiku dari kamar untuk beranjak pergi kepasar minggu. Tanpa ada bayangan yang terlintas terlebih dulu diotak, saat aku membuka pintu ada sesosok tubuh yang tinggi, rambutnya lurus tapi bermode mengikuti tren terbaru. Tapi dia membalikkan wajahnya sehingga aku tidak bisa mengoreksi wajanya. Dari bentuk badannya mulai ujung kaki sampai ujung rambut sepertinya sosok ini sudah tak asing lagi bagiku, tapi siapa?
1, 2, 3 ya!!! Dia membalikkan wajahnya, “ANDRE”??? badan yang ada didepanku ini ternyata Andre, kalau dilihat-lihat semakin lama, semakin ganteng aja ya? Hehe
“Kamu mau cari siapa?” tanyaku ke Andre masih dengan menatapnya dipenuhi dengan perasaan yang berbungah-bungah.
“Aku cari kamu Via, tapi sepetinya kamu mau keluar?”
“Ehm, gak kok. Cuma mau beli makan sebentar. Emangnya ada apa?” tanyaku penasaran dan kali ini hatiku dua kali lipat lebih berbungah-bungah dari yang tadi. Pastinya memang harus begitu dong, masa sih Dewi Via dicari Arjuna Andre tidak senang, kan mustahil banget.
“Aku pengen ngajak kamu sekarang nemenin aku jalan-jalan ke pasar minggu. Gimana, bisa gak?” kalau dilihat dari mukanya, dia seperti sangat berharap ingin sekali pergi ke pasar minnggu sama aku, tapi memang sudah pasti jika aku akan mengabulkan keinginannya itu.
“Iya, aku bisa kog. Kebetulan banget aku mau beli makannya tadi juga dipasar minggu.” Jawabku.
“Oh ya? Kebetulan banget dong kalau gitu. Ayo berangkat sekarang, tunggu apa lagi?” ujar Andre sambil menarik tanganku kedepan gang kostan.
“Andre mau kemana? Kan angkutan umumnya disana?” tanyaku heran karena Andre menarikku ke arah yang berlawanan dengan tempat angkutan umum yang menuju ke pasar minggu.
“Kenapa mesti naik angkot? Akukan bawa kendaraan.” Dia terus menarik tanganku dan memegangnya dengan erat. Ada yang berdebar-debar dalam diriku, mungkin karena efek samping dipegang sama cowok ganteng. Aku mencari sebuah sepeda motor tapi tidak ada dihadapanku, hanya terparkir satu unit Honda Jazz berwarna merah darah yang bersih nan indah. Semakin dekat, semakin terlihat mengagumkan.
“Silakan masuk!!!” Andre membukakan pintu mobil itu tadi buat aku. Aku kira kita akan pergi naik sepeda motor, ternyata dengan mobil yang terlihat didepan mataku tadi.
“Oh, iya terimakasih banyak.” Sahutku singkat seperti ada yang sedikit mengganjal dipikiranku, kenapa tiba-tba Andre mengajak aku keluar setelah satu minggu dia tidak tampak di kedua bola mataku ini? Kenapa juga Andre tidak malu jalan dengan aku yang hanya cewek kampung yang berpakaian celana pendek yang kumal dan kaos seadanya, bersepatu sobek dan jelasanya tidak begitu cantik seperti seorang Dewi.
“Andre jalanya pelan-pelan aja ya! Aku tidak biasa naik mobil, jadi setiap naik mobil selalu pengen muntah.” Ya memang begitulah aku, cewek kampung yang tidak sering naik mobil, bahkan hampir tidak pernah. Mungkin satu tahun hanya 3-4 kali, itupun aku pasti selalu mabuk. Dikampungku tidak ada yang namanya angkutan umum, karena orang kemana-mana selalu jalan kaki. Mungkin hanya beberapa orang yang punya mobil karena memang mereka mampu, jadi warga kampungku akan menyewa mobil-mobil itu tadi apabila ingin bepergian ketempat jauh saja.
“Iya aku ngerti. Tenang aja, kamu aman denganku.” Lontaran kalimatnya keluar disertai lambaian tangan yang lemah gemulai diatas rambutku.


“Kasih peganglah tanganku, dan tatap mataku, betapa aku mencintaimu...” alunan lirik yang bercampur dengan syairnya itu terdengar begitu manis dan cocok untuk menggulai hati yang sedang pahit. Saat ini aku berada ditengah-tengah para pengunjung pasar minggu. Aku mencari sesosok cowok yang tadi berangkat dengan aku, sepertinya dari awal masuk tadi aku selalu disampingnya, tapi kenapa dia sekarang lenyap bagaikan ditelan bumi begitu saja.
Kucari dan terus kucari Andre. Seketika mataku tertuju ke tenda panggung yang ada disudut kiri dari banyaknya tenda yang berdiri disini, ternyata dari panggung irulah meluncur untaian lagu yang terdengar merdu dari tadi, bahkan hingga sekarang pun lagu itu masih mengalun dengan begitu merdunya. Tunggu dulu, siapa itu? Sipakah vokalis yang ada dipanggung itu? Kenapa wajahnya menyerupai Andre?
Iya, ternyata benar itu memang Andre, tidak salah lagi. Cowok yang berkaos merah, bercelana jeans dengan postur tubuh yang sangat identik. Aku begitu salut dengannya, tidak kusangka jika dia memiliki suara yang indah dan menawan.
Terus kudengarkan lagu yang sejauh ini masih melengking dari mulut Andre. Mungkin sudah menyita waktu sampai tiga menit untuk menyanyikan lagu yang berjudul “kasih” dari group band Salju itu, dan kini akhirnya usai sudah.
“Untuk semua  yang ada disini, terimakasih banyak. Lagu ini saya persembahkan untuk gadis cantik yang disana, yang pakai kaos putih, VIA!!” teriakan Andre yang begitu semangat itu menggelegar diseluruh penjuru pasar minggu pada saat itu, sudah gitu dia mengacungkan jari telunjuknya kearahku. Aduh,,, betapa malunya aku begitu banyak ratus jiwa yang memandangi aku, kenapa sih Andre ada-ada saja?
“Ayo jalan lagi!” dengan santainya Andre menarik tanganku dari antara makhluk hidup disini, bagaikan malaikat yang tak pernah malakukan dosa saja.
“Ndre, aku boleh tanya suatu gak?” rasa bergejolak hati ingin bertanya sesuatu kepada cowok misterius yang penuh cinta ini.
“Ya pasti bolehlah, kamu ada-ada aja pakek minta izin segala. Memangnya kamu mau tanya apa?” sahutnya dengan penuh rasa percaya diri.
“Kemarin satu minggu kamu menghilang, tiba-tiba kamu kembali dengan kejutan yang begitu banyak buat aku. Memangnya kamu kemarin kemana aja sih?” dengan sedikit nekat kuberanikan mulutku menganga dan mengeluarkan kalimat itu.
“Nanti kamu akan tahu sendiri kok Via kemana kemarin aku pergi. Tapi bukan sekarang saatnya.” Terangnya begitu singkat. Aku mampu memahami alasannya itu, tapi tetap saja aku tidak mengerti akan maksudnya.
Ternyata asyik juga jalan sama Andre. Aku merasa senang, nyaman, bisa nyambung, pokonya asyik banget deh. Disini kita beli banyak banget loh, kalung bentuk hati, gantungan kunci, topi, kaos, makanan tradisional, gula kapuk, dan yang pastinya semua itu buat kita berdua, bukan cuma aku saja, maksudnya setiap apa yang dibeli selalu beli 2, jadi aku dan Andre punya sama. Pasti tidak sedikit uang yang dikeluarkan sama Andre, kalau dikira-kira sih dua ratus ribu saja pasti ludes.
Aku tidak pernah menginginkan semua ini dari Andre, aku sudah bersi keras menolaknya, tapi percuma saja Andre tetap saja ngotot mau memebelikan semuanya ini. Apa yang bisa aku perbuat selanjutnya? Ya aku cuma bisa pasrah saja. Bila andre yang minta itu, aku seperti luluh tidak bisa menolaknya.
Aku menyudahi petualanganku dengan Andre hari ini. Karena tidak menghiraukannya berjalannya waktu, ternyata kita sudah tiga jam disini. Kugiring Andre untuk mau melangkahkan kakinya menjauhi keramaian ini untuk pergi menjemput mobilnya di parkiran dan mengantarku pulang.
“Andre, thanks ya buat hari ini. Aku seneng banget.” Aku mengawali percakapan di mobil dengan Andre.
“Iya sama-sama. Aku juga terima kasih banyak kamu mau menemani aku mengisi hari-hariku.”
Akhirnya sampai rumah juga. Aku langsung turun dari mobil dan melaju pulang menuju kost-kostan.


“Baru saja mbak saya mau pencet bel, eh ternyata keduluan mbak Ita buka pintunya.” Ujarku saat bertatap muka dengan mbak Ita didepan pintu.
“Bukannya keduluan, tapi aku memang sengaja nungguin kamu!!!” sahutnya jutek dengan raut wajah yang menyebalkan.
“Memangnya ada apa mbak? Kok tumben-tumbennya nungguin saya, tadikan saya sudah pamit waktu mau keluar.” Sahutku masih ramah.
“Enak ya main terus? Eh, loe disini itu bukan ratu!!! Ngaca dong! Cuma dari desa saja bangga. Sana kamu masak nasi.” Ucapan mbak Ita yang ketus itu terdengar amat sangat menyeramkan dikupingku. Tanpa ada jawab lagi dari mulutku, langsung kubopong tempat nasi didalam lemari untuk dicuci dan menanak nasi lagi.
“Kenapa sih mbak Ita seperti singa yang selalu siap menerkam buat aku?” ucapku dalam batin. Mungkin memang karena sifatnya itu. Dari 24 jam dalam sehari aku pasti selalu dapat jatah terima sekarung cacian dari mbak Ita. Tapi sudahlah, yang penting aku selalu siap jalani hari-hari yang jahat itu. Hati kecilku sebenarnya menjerit minta dikeluarkan dari kandang singa ini, tapi faktor ekonomi keluargaku tidak akan cukup membiayai aku untuk mencari kostan lain dan keluar dari sini.
Aku mau bertahan disini karena kostan inilah yang paling murah. Jadi aku tidak akan mempersulit keadaan ekonomi keluargaku dikampung hanya karena masalah sepele seperti ini. Aku akan menganggap semua ini adalah rintangan untuk menempuh kesuksesan. Ya, anggap saja semacam penguatan mental. Tapi memang benar juga sih, karena buat mereka yang tidak kuat mental, satu hari kost disini saja bisa mati berdiri. Tidak usah cari contoh perumpamaan, dalam kenyataanpun sudah pernah terjadi. Masih ingatkan dibagian ‘B’ aku mengatakan anggota kost ada tujuh orang (tanpa bapak dan ibu kost), tapi sekarang hanya tinggal dua orang, yakni aku sama mbak Ita. Lima cewek penghuni bangunan mungil ini sudah mengundurkan diri dari sayembara masuk kandang singa lebih lama. Kesaksian mereka secara keseluruhan dapat disimpulkan dengan satu alasan yaitu ‘tidak mau mati sia-sia diterkam singa dalam keadaan hidup-hidup’. Alasan mereka konyol ya? Hampir sama sih dengan aku, tapi aku tidak takut kalau hanya masih digertak mati penasaran, yang paling aku pikirkan disini adalah aku tidak mau batinku mati tersiksa karena penuh dangan sindiran maut.
Kata-kata mereka memang seperti jarum semua, lancip. Masalah kecil saja bisa berubah jadi neraka jahanam kalau ketahuan mereka. Tidur siang pasti memang hak yang patut kita nikmati bukan? Tapi kalau disini ceritanya bisa jadi lain. Buatku disini tidur siang sekarang bukanlah hak, melainkan kewajiban yang haru dihindari. Jika dirasakan, memang benar bahwa neraka itu tidak akan berhawa dingin, tapi semakin hari akan terasa semakin panas dan dapat membakar.
Setelah hampir delapan bulan aku tinggal dirumah ini, aku baru sadar bahwa aku memang salah memilih jalan hidup. Cobaan demi cobaan datang beruntut-runtut seperti tiada hentinya. Yang paling tidak aku sangka, disini aku seperti jadi seorang pesuruh, padahalkan disini aku juga bayar. Mungkin hari-hari yang aku jalani memang terlihat biasa, tapi sebenarnya aku jalani itu semua dengan penuh siksaan batin.
“Buk, Pak, saya pamit berangkat sekolah dulu.” Pamitku kepada kedua orang tua kostku itu.
“Iya.” Jawab mereka sangat singkat. Aku tidak begitu mempermasalahkan hal ini, karena tidak hanya sekali ini saja mereka bersifat dingin kepadaku. Bahkan biasanya mereka malah diam saja dan tidak mau menjawab. continue ..

By : Oktfia Putri K.

Sabtu, 18 Februari 2012

CERBER " CABLAK - catatan blak-blak'an-"

Cintaku Bersemi di Restoran


A
                                                               
“Percayalah ibu aku pasti bisa, doakan Via lulus dengan nilai yang memuaskan ya…!!!”
Kulihat tanggalan yang bergantung di dinding kamarku, persis di sampingnya bertengger jam dinding yang melangkah lembut, tapi menurutku itu sangat cepat. Sekarang sudah pukul 11.00 malam, tak terasa aku sudah membaca 5 buku yang tebalnya 210-229 halaman. Ujian ini menentukan nasibku untuk terus sekolah ataukah cukup sampai disini. Benar jika ayahku buruh petani dan ibuku pembantu rumah tangga, tapi aku yakin semuanya akan berubah nanti.
Ini hari terakhirku membahas materi pelajaran buat persiapan ujian, karena dua hari lagi ujian akan datang menghampiriku. Sekolah ini pasti akan jadi kenanganku yang paling konyol dan haru, terutama kenangan-kananganku dengan sahabatku Revi.
“Rev, aku gak yakin. Aku takut !!!”
“Udahlah, kamu pasti bisa kog!! Aku aja yakin banget kalau kamu pasti bisa.” Dukung Revi memberi semangat.
“Bukan masalah bisa atau gak bisanya, tapi ini nentuin masa depan aku. Kamu tahu sendirikan kalau aku gagal jadi juara pertama mungkin aku gak akan sekolah lagi…!!!”
“Ya aku tahu, sabar ya! Ayo ke kantin, udah bel istirahat nih..!!!”
Aku dan Revi berjalan ke kantin, dan saat itu aku bertemu dengan Yogik, cowok yang selalu support aku selama ini.
“Via, semoga kita semua bisa lulus ya…!!!” Yogik mengulurkan tangannya sambil menatap aku dengan tatapan yang tajam. Aku menyambut uluran tangannya dengan penuh harapan yang sama dengannya, yakni juga mengharapkan semua lulus.
“Udah ayo Via, nanti keburu bel masuk loh..!!!” Revi menarik tanganku untuk bergegas ke kentin sebelum bel masuk berbunyi. Seperti biasa aku memesan semangkuk soto dan segelas es teh. Aku aduk hingga tak aturan soto yang ada didepanku itu, tapi sayang juga kalau gak dimakan, akukan belinya pakai uang, ya saja kalau uangku banyak, inikan malah keadaan yang sebaliknya. Aku teguk es teh digelas lalu aku santap makanan yang ada dihadapanku itu.
Saat bel masuk berbunyi aku berjalan dengan santai dan sangat pelan ke kelas. Perasaan takut dan khawatir jika telat yang biasa aku rasakan kini tak terasa sedikitpun menghantuiku, seperti sirna ditelan panasnya sinar matahari.
“Via aku duluan ke kelas ya…!!!” tangan Revi menepuk pundakku dengan berlari menuju ke kelas, mungkin dia takut jika nanti telat waktu pelajarannya B.Reni. Setelah aku sampai di depan kelas, ku ulurkan tanganku untuk mendorong pintu kelas yang tidak biasanya ditutup saat pelajaran.
“Pyorrrrrrr………..pyorrrrr………….!!!!!!!! Selamat ulang tahun-selamat ulang tahun…!!!” senandung lagu itu terdengar mengalun ketika aku diguyur hujan telur di depan pintu kelas barusan. Uhh.. aku gak tahu semua rencana ini. Kenapa begitu bodohnya aku sampai-sampai aku lupa kalau hari ini aku genap berumur 16 tahun. Saat aku mengangkat wajahku untuk melihat apa yang ada di depanku, aku sangat kaget saat membuka mata, karena pada saat itu semua guru dan teman-teman sekelasku ada didalam kelas ini untuk memberikan kejutan ini buatku.
Bel tanda pulang berbunyi, aku beranjak lebih cepat dari biasanya, ku tak hiraukan panggilan cewek yang suaranya sangat aku kenal, dan pasti itu suara Revi. Aku tak tahu mengapa dia memanggilku, aku hanya membalikkan wajahku dan melontarkan senyum terpaksa, lalu dengan cepat aku langsung kembali melangkahkan kakiku untuk segera pulang dan menjemput gudang ilmu (buku) yang tertata rapi di meja belajarku. Mungkin karena tidak pernah aku buka sebelumnya jadi tatanannya tetap rapi.


Bu Lili mengumumkan jika hasil ujian akan keluar lima hari lagi. Aku berdoa supaya Tuhan berikan rencana terbaiknya bagiku. Lima hari itu lama banget ya…??? Masa sih ditunggu dari kemarin keputusannya gak keluar-keluar…?, keluhku dalam hati.
Hari ini adalah kejutan yang ditunggu-tunggu oleh semua pelajar SMP di Indonesia, dimana kejutan ini akan membuat kita haru, sedih, senang dan semua rasa manis bahkan pahit sekalipun. Aku Callista Vialine Cristy sudah siap untuk menerima semua kenyataan itu.
Suara kapala sekolah menggaung menyelimuti ratusan jiwa yang ada didalam ruangan ini. Wali murid yang terus berdatangan dan hampir memenuhi aula ini juga ikut merasakan kekhawatiran yang amat luar biasa menggoncang jiwa. Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, ini pukul 10.00 WIB yang akan menjadi sejarah dihatiku.
Kepala sekolah membacakan hasilnya mulai dari yang terbaik, dan yang akan dibacakan hanyalah prestasi sampai sepuluh besar. Saat kepala sekolah akan menyebutkan nama pertama, ayahku baru saja datang, aku langsung menghampirinya dan memeluknya. Saat aku mendengar kepala sekolah menyebut huruf pertama anak yang berprestasi aku langsung menutup telinga dan………………………………………………
“CALLISTA VIALINE CRISTY” . Ya Tuhan aku seneng banget namaku disebut menjadi juara pertama. Aku sungguh benar sangat bahagia sekali. Hiks….hiks…hiks…. tak terasa aku menerjunkan air mataku sampai tsunamipun menghantam pipiku. Ayah dan aku menguatkan kaki untuk melangkah ke depan mengambil hasil dan tanda prestasi yang diberikan kepadaku, dan yang paling aku harapkan kini terkabul, beasiswa kini berhasil kupangku dikedua telapak tangan.
Dengan ini, semua masa depan dapat kuawali mulai dari sekarang. Beasiswa ini akan menuntun kakiku melangkah kejenjang pendidikan berikutnya, dan aku akan memanfaatkan kesempatan kali ini dengan sebaik-baiknya. Tapi aku harus berjalan sendiri sekarang, karena beasiswa yang aku dapatkan memaksa aku untuk meninggalkan kehidupanku yang sekarang, mulai dari keluarga, teman-teman, rumahku, desaku dan semua yang aku miliki sekarang. Aku hanya dapat mengucapakan terimakasih dan selamat tinggal buat semuanya. Sekarang hidupku diselubungi kesepian. Disini akan dimulai kisahku yang baru sebagai remaja sekolah.
Ku kira satu jam itu bukan waktu yang singkat untuk menempuh perjalanan, tapi ternyata perjalanan yang aku tempuh tidak hanya satu jam untuk menyelam ke tempat dimana aku akan membuka lembaran baru. Aku sampai dibatas kota setelah tiga jam, tapi tapi tempat yang aku tuju bukan dibatas kota, melainkan didalam kota, jadi aku harus menempuh setengah jam lagi.
Duduk terlalu lama diatas motor ternyata membuat bokong itu panas ya...? Uhh,,, semakin jauh, semakin jauh, dan semakin jauh aku meninggalkan tanah kelahiranku. Ehm... aku tidak sadar bahwa sekarang aku sudah berdiri dan meninggalkan motor yang aku naiki tadi, sekarang aku sudah sampai ditempat ini, disini. Tempat yang memang merupakan tujuanku.


Aku terdampar disini, ditempat yang bertembok dilapisi perpaduan cat berwarna pink blue dan pintu yang diolesi berbagai hiasan berwarna hijau muda. Aku mendorong pintu itu dan kulihat kembali dunia baru. Langit-langitnya berwarna biru keabu-abuan, sudah tersiap rapi ranjang yang akan menampung badanku setiap hari, lemari dari kayu yang bertekstur menawan dengan motif  yang dapat memikat hati setiap pemandangnya.
Ini kenyataan...??? Iya,, ternyata ini memang bukan mimpi. Kuperkenalkan, inilah dia kamarku, kamar baruku. Ini ranjangku, lemariku, dan ini ‘kostanku’. Aku akan menjalani hari-hari depanku disini.
“Tit,,,,tit,,,,tit,,,,” hello kitty disampingku sudah berteriak, merintih supaya aku mau membuka mata, melipat selimut, dan bangun untuk mematikan jam beker itu. Iya... jam beker yang berbentuk hello kitty inilah yang selalu setia menemani aku, mengingatkan aku, dan terus bekerja buat aku (jika baterainya tidak habis, kalau habis ya tidak kerja dong!! Alias mati).
Aku berangkat kesekolah baruku dengan semangat yang menyala-nyala, meskipun pagi itu aku belum menyantap apapun seperti yang biasa aku lakuin didesa, tapi aku terlihat sangat semangat. Aku bergegas dengan motivasi jika aku akan mendapatkan sekolah baru yang jauh lebih baik dari sekolah yang ada didesaku. Kenyataannya, ternyata memang benar, yang ada dibenakku kini sudah jadi kenyataan.
Awal yang menyenangkan buat aku, karena kedatanganku disambut gembira oleh murid-murid baru lainnya. Sesaat kemudian aku mendapatkan gadis kecil yang imut, lucu dan mungil. Dia sedang menginjakkan kakinya di lantai sebuah ruangan dimana aku juga berada disitu. Aku menggerakkan bibirku untuk melontarkan beberapa kalimat kepada gadis kecil itu.
“Hey.... duduk disini aja...! Masih kosong kok...!!!” lalu aku berdiri sambil melambaikan tangan untuk menyapa gadis berambut panjang itu (rambutnya panjang banget loh, sudah gitu hitam pekat lagi....!!!).
“Iya, terima kasih ya..!!” katanya sambil mengulurkan tangan ke padaku. Kutangkap tangan itu sambil menghiasi wajahku dengan senyum termanisku.      “Ehm,,, sama-sama. Aku Callista Vialine Cristy, tapi biar gak terlalu ruwet panggil aja Via!!!”. “Ok Via,,, kalau aku Vian...”.
Ohw,,, ternyata namanya Vian, hampir sama dengan aku ya?? Cukup mengesankan aja sih, dia anaknya hitam manis sama dengan aku, rambutnya panjang sama dengan aku, dan kalau dilihat-lihat dari kejauhan 100 meter, pasti orang lain yang tidak tahu akan menganggap aku adalah adik kakak dengan Vian. Ehm,,, tidak usah dari kejauhan 100 meter, anak-anak dikelas saja ternyata juga mengira aku berkakak adik dengannya.
Aku dan Vian memang ditakdirkan untuk bertemu mungkin ya? Hari-hari baruku disekolah kini selalu aku jalani bersamanya. Memang benar dia sudah aku anggap sebagai saudaraku, begitupun dia. Segala sesuatu entah itu suka atau duka yang kita alami dan kita rasakan, baik yang berhubungan dengan keluarga, sekolah, bahkan pacarpun selalu kita sheringkan bersama.
Tapi teman baruku bukan cuma Vian saja loh!! Akukan anak kost,  pasti jelas kalau temanku dirumah lebih banyak. Ada enam orang yang tinggal dengan aku sekarang. Mbak Ita, mbak Risna, mbak Khusnul, mbak Rini, mbak Karin, dan mbak Ina. Semua aku panggil mbak nih, soalnya aku penghuni termuda disini. Tapi ada juga yang seumuran dengan aku, namanya Veda. Dia itu cucunya ibu dan bapak kos aku, tapi dia tidak tinggal serumah disini, mungkin kalau pulang sekolah saja dia mampir. Est,,, aku lupa, disini juga ada ibu dan bapak kos aku, namanya B.Rose dan P.Bambang. itulah keluargaku sekarang. Oh ya,,, ditambah aku jadi ada sembilan orang dibawah satu atap ini, tapi aku belum tahu sifat mereka masing-masing.


Veda adalah yang terbaik dari yang terbaik. Maksudku, dari delapan orang yang tinggal bersamaku dan menjadi keluargaku sekarang, Vedalah yang paling bisa mengerti akan diriku. Veda, dia selalu berbagi dengan aku. Kalau disekolah mungkin seperti Vian dan kalau dikampungku seperti Revi. Mereka sahabat-sahabatku yang baik. Dia tidak begitu nyambung jika sudah menyangkut tema bahasan cowok, karena mulai dari SD sampai SMP dia baru pacaran dua kali. Itu saja waktu sudah kelas tiga SMP. Jadi dia sering banget tanya ke aku jika sudah mengenai cowok. Bisa dikategorikan anak yang alim nih!!!
Mbak Ita, rambutnya ikal pendek, kulitnya sawo mateng, anaknya kecil, dan dialah yang menjadi kakak semua penghuni kost. Baik sih, tapi kadang-kadang juga sering nyebelin. Mungkin karena dia yang tertua, jadi dia yang sering banget nasehatin aku. Kalau dinasehati baik-baik semua orang masih bisa terima, ini nasehatnya sambil nyindir-nyindir, pantes sajakan aku kesel.
Mbak Risna, cewek paling tinggi dikostanku. Kulitnya kuning langsat, cantik dan aku nyambung banget sama dia. Biarpun anaknya suka nyindir, tapi dia baik. Sindiran yang keluar dari mulutnya tidak pernah diberikan kesesama penghuni kost, di hanya menyindir musuh-musuhnya saja disekolah. Orangnya juga enak, gak pelit.
Mbak Khusnul, kulitnya hitam manis, tingginya semampai, rambutnya tebal. Dia sekamar sama mbak Risna. Orangnya juga enakan, juga satu lagi dia pinter gambar loh!!
Mbak Rini, dia yang paling kaya disini. Tapi orangnya gak sombong. Cuma dia sering gak ikut ngumpul waktu rapat warga kost, karena dia terlalu sibuk sama pekerjaannya.
Mbak Karin, uhh..... dia penghuni paling keren disini. Cewek yang satu ini pasti mudah diinget, soalnya dia tomboy abis. Sifatnya yang paling tidak disegani sama warga kost yaitu dia suka pamer. Saking seringnya dilakuin, kami semua sudah tidak kaget sama tingkahnya dia yang kayak gitu.
Mbak Ina, cewek satu ini paling pendiam dikostan. Sehari 24 jam dia hanya keluar kamar saat sekolah saja. Mungkin sehari cuma bicara sekali dengan aku. Ehm,,,kalau gini caranya gimana bisa akrab ya???
Dari ketujuh warga kost, yang sering banget ngumpul-ngumpul adalah aku, mbak Risna, sama mbak Khusnul. Kita selalu ngumpul dikamar paling pojok belakang sendiri, yang pastinya itu adalah tempat kediaman dua gadis itu. Banyak aktivitas yang kita lakukan dikamar itu. Contohnya saja konser-konser kayak  orang stres, maklum cita-cta ketemu Pasha Ungu belum kesampaian, jadi kasur yang fungsinya buat melenyapkan rasa letih, kini ganti fungsi jadi panggung orang stres beraksi. Disini kita biasanya juga membuat riasan model-model rambut, ehm... alamat rambutku yang jadi bahan percobaan. Selain itu, kegiatan yang paling sering kita lakukan disarang itu adalah curhat-curhat. Kalau sudah bicarain perasaan, kita kuat bertahan sampai tiga jam dikandangnya mbak Risna sama mbak Khusnul itu.
Sebenarnya sih kita pengennya semua warga kos bisa ikut ngumpul bareng-bareng seperti ini, tapi mbak-mbak lainnya tetap saja tidak bisa. Alasannya dari dulu sama saja, katanya masih banyak kerjaan. Kita sih gak maksa, cuma pengen saja kalu semua bisa kumpul-kumpul bareng, cerita-cerita, atau yang lainnya deh. Kan kalau dengan seperti itu kita bisa lebih bersaudara. Jika bukan kita yang mengusahakannya mau siapa lagi? Iya gak? Gak mungkinkan dengan keadaan seperti ini tiba-tiba persaudaraan akan datang dengan sendirinya? Pasti semua itu perlu dibina.
Oh ya, aku belum jelasin sifat B.Rose sama P.Bambang, tapi jujur aku memang gak bisa jelasin sifat mereka. Kalau ingin tahu sifat mereka kalian buka saja lembar berikutnya. Lalu kalian simpulin sendiri sifat mereka bagaimana. continue ...

by : Oktafia Putri K.

Senin, 06 Februari 2012

Cerpen


Celly, kog malang sih mbak sampean?

GILA, itulah satu kata yang dipilih oleh Celly buat gambarin apa yang dia alami hari ini. Deskripsinya panjang, mulai dari bangun tidur sampai dia mau tidur lagi. Kalau dirinci dalam daftar kegiatan, bisa dikasih tanda kalau 80% dari kegitannya itu  gila, hehee.
Yang hanya diawali dari telat bangun saja, bisa membuat kegiatan satu hari itu berantakan, padahal kalau dipantau dengan cermat, hampir setiap hari Celly memang selalu bangun kesiangan. Tapi siapa sangka kalau telat bangun yang satu ini membuat malapetaka besar bagi Celly. Bangun tidur telat 15 menit, tujuan utama setelah bangun adalah pegang selimut dan melipatnya, tapi setelah Celly bangun, diamatinya sarung bantal yang merona kuning kini bercetakkan peta-peta pulau dan provinsi alias ngiler. Wiihh, kalau dalam bahasa jawa, kopros iku jenenge mbak, hehehe. Apa kata ‘MAK’ku, kalo tahu anak perawannya ngiler? Celly sudah gak peduli dengan provinsinya itu, dia aja sudah telat bangun, kalau ngurusi provinsinya itu pasti sekolahnya juga akan telat. Langkah penyelamatanpun dilakukan, membalik bantal, hehehe.
Lagi saat Celly menarik selimutnya, bed cover yang serasi dengan bantalnya sudah mendapatkan warna baru, merah merekah waahhh . Buat para cewek pasti sudah bisa nebak itu cat apa? Bukan cat minyak loh ya, cat alami alias menstruasi. Wah kalau masalah satu ini cara penyelamatan yang cepet gimana ya? Celly nyerah deh, mau disembunyiin sudah keduluan ketahuan mamanya. Akhirnya suruh bersihin dulu, tapi yang namanya mama kan gak mungkin tega anaknya telat sekolah, kali ini Celly selamat.
Masalah dirumah selesai, Celly tinggal berlari cepat menuju ke sekolah yang jaraknya kurang dari satu km dari rumahnya. Gak enak sih kalau dipikir, lagi dapet lari-lari lagi, kasihannya mbak Celly.
“Cell...!!!” suara panggilan dari belakang.
“Ya ..” Jawabnya sambil menoleh kebelakang.
“Ahhhh .........!!!!!!! ( Gubrak )..” suara Celly dan soundtracknya terdengar bersamaan saat kakinya termakan lubang got yang ada di depannya.
“Cell, sakit ya?” tanya anak itu. “Gak. Cuma terkilir.” jawabnya.
“Oh. Ya sudah. Kalau gak sakit gak perlu bantuanku dong?”
“Auhh, sekarang baru terasa sakitnya.” Kata Celly sambil muka memelas seperti orang meminta sebuah nasi, hehee.
Wah, kalu dipikir-pikir Celly ketahun bohongnya tuh! Masak abis bilang gak sakit hanya karena mau digendong langsung bilang sakit. Tapi siapa juga yang gak mau digendong sama cowok yang gagah, ciecie. Kalau dari fisik memang sih dia oke, tapi kalau dari muka sebernanya pas-pasan aja sih. Bahkan hampir mendekati abstrak, hehehe.  Cowok perumahan sebelah, namanya Anggara. Hampir sama dengan nama kucingnya Celly dirumah tuh, hehehe. Anggara dan Celly juga satu sekolah, tapi tidak pernah bersamaan berangkatnya biarpun tetangga dekat, mungkin satu bulan berangkat bersama hanya satu kali.
Karena muka Celly yang tadi sangat melas, berhasilah dia membuat hati Anggara luluh. Berangkat sekolah dengan berada diatas punggung Anggara ternyata membuat Celly tidak nyaman. Benar sih dia kekar, itu gak masalah. Tapi sepanjang perjalanan semua mata yang ada selalu melihati mereka, semuanya tanpa terkecuali anak yang baru masuk TK pun.
“Ngga, ngerasa gak semua mata tertuju pada kita?” tanya Celly sambil nyengir.
“Jangan GR, mereka thu ngliati aku, bukan kita.” Bales Anggara sok.
“Yeeee, GR’an juga kamu. Hihh,,, yeeekk!! Udah-udah turunin aku sekarang!” pinta Celly sambil memukul kecil dipundak Anggara.
“Heem-heem sabar. Kurang juga lima langkah dah sampai gerbang sekolah. Kan tanggung.”
“Aduh!! Pokoknya turunin aku disini! Gak mau sampai digerbang sekolah.” Celly sudah mulai marah.
“Iya mbak yu.” Anggarapun menurunkan Celly disitu juga dan meninggalkan Celly dengan berjalan lebih dulu.
Sesampainya di sekolah, Celly harus melapor ke guru piket dulu untuk mendapatkan surat izin agar bisa masuk kelas karena dia memang telat. Setelah dia muter-muter hampir sepuluh menit mencari guru piket, Celly tiba di kelas XII IPA-10. Padahal posisi itu berada jauh dari kelasnya di X IPA-1, tapi Celly belum juga nemuin petugas piketnya.
“Cell, kamu telat ya?” tanya Rina yang jaraknya tidak jauh dihadapannya.
“Iya Rin. Tunggu aku, kita cari petugas piket bareng.” Kata Celly sambil lari menuju Rina.
“Cell awas it....(Bruuuak)” teriak Rina belum selesai tapi sudah kepotong sama atraksi Celly.
“Siitt,,, Oh My God. Sakit..!!” kata Celly benar-benar kesakitan kali ini.
“Cell? Kamu gak apa-apa? Sakit gak?”
“Gak! Iya ya lah sakit Rin. Dibantu napa aku! Jangan dilihatin aja.” Ujar Celly marah.
“Oh heem. Bentar-bentar.”
Rinapun membantu Celly berdiri. Iya, memang anak ini beda banget sama yang lainnya. Perasaan ada aja yang berantakin harinya. Butuh kesabaraan lebih kalau jadi Celly buat jalani harinya.
“Cell, kamu lagi dapet ya?” tanya Rina agak aneh.
“Iya, memang kenapa? Kan wajar toh, jadi muka kamu gak usah aneh gitu.” Celly tersenyum.
“Bukan. Tapi Itu,,”
“Itu apa sih? Kalau ngmong jangan setengah-setengah.” Celly nerocos.
“Diam bentar napa? Biyar aku ngomong dulu. Itu Cell!”
“Apa sih? Kamu buat aku takut aja.”
“Kamu bocor.”
“Whatttt???? Yang bener aja? Masak sih?” tanya Celly gak percaya.
“Iya. Bener. Kamu lihat di kamar mandi kalau gak percaya.”
“Aduh. Iya udah aku ke kamar mandi dulu ya. Kamu ikut ya!!” ajak Celly memaksa.
“Yee, gak mau. Aku juga sudah telat kog, kamu sendiri aja kesana. Dah ya..”
Rinapun pergi ninggalin Celly sendiri. Sekarang Celly sudah sangat marah, tapi gak bisa di lampiaskan ke siapapun, hanya bisa memendam dalam hati saja. Celly menemukan kamar mandi yang ada di dekat ruang KOPSIS, karena terlalu bingung Celly gak lihat dulu label yang tertera diatas pintu dan langsung masuk aja. Untung belum sampai masuk ke dalam, masih dimuka pintu, ada penghuni adam yang keluar dari ruangan itu.
“Hey, kamu Celly anak kelas X kan? Kog ada disini?”
“Udah gak usah banyak omong. Aku mau ke kamar mandi dulu, darurat.” Potong Celly.
“Tapi Lok ini penting, jadi aku harus ngomong. Kamu salah kamar mandi sayang. Ini cowok, beneran mau masuk kedalam sini?”
“Oh iya? Ya ampun,,, sorry”!!! Sorry banget ya!” kata Celly sambil melipat tangannya didepan muka. Lalu Celly langsung membalikkan badan dan menuju ruangan yang benar.
“Cell, yang kamu tutupin masih kelihatan tuh!!” kata cowok itu sambil tersenyum kepada Celly.
“Heh!!! Haduh..!!!” muka Celly langsung merah saat itu juga karena rasa malu yang tak tertahan. Sudah bocor, malah ketahuan kakak kelas cowok lagi. Huhh,, dosa banget rasanya, sangat memalukan.
“Untung aja aku bawa ganti. Mama memang paling tahu apa yang aku butuhkan. Hehee,, aman.” Celly senang karena tertolong, mamanya yang sudah mempersiapkan keperluan sekolanya setiap pagi ternyata juga membawakannya ganti pada saat yang tepat. Betapa senengnya Celly kali ini.
Setelah selesai ganti Celly menengok pada jam tangan putih yang melingkari tangannya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 7.10, berarti lima menit lagi bel tanda jam pertama selesai akan berbunyi. Celly pun langsung keluar dari kamar mandi dan meneruskan pencarian guru piketnya. Memang kali ini Celly lagi hoki, tepat saat Celly keluar guru piket lewat didepannya.
“Bu Ve, tunggu!!” teriak Celly pelan.
“Celly, kenapa? Telat lagi??? Haduh-haduh, tiada hari tanpa telat. Setiap hari selalu begini, saya sudah bosan mencatat nama kamu tahu? Lihat point kamu dibuku pelanggaran sudah berapa puluh? Kalau begini terus kamu juga bisa gak naik kelas. Lagian ...”
“Bu maaf, sudah lima menit. Besok lagi aja diterusin ya Bu nasehatnya. Da .... da .... Bu Ve!!!” kata Celly sambil melambaikan tangan ke arah Bu Ve tanpa melihat apa yang ada didepannya.
“Aduuh. Maap-maap. Aku gak sengaja..” kata Celly karena menabrak seorang cowok yang gak dikenalnya.
“Makanya kalau jalan mata taruh depan, jangan dibelakang terus.”
“Iya-iya maap. Ini mataku juga sudah didepan, masak mata se-gede ini kamu gak tahu?”
“Eh dah salah nyolot lagi! Awas loe nanti pulang sekolah!!!” ancam pemuda itu.
“Sok berani!” Ucap Celly pelan setelah pemuda itu agak jauh. Celly pun pergi menuju kelasnya.
“Tok..tok..tok...” Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan kelas X IPA-1.
“Siapa? Masuk!” Jawab guru yang sedang mengajar di dalam kelas tersebut.
“Saya Pak, Celly. Hehehee..” Jawab Celly sambil nyengir lalu menghampiri gurunya dan memberi salam.
“Loh-loh,, siapa yang suruh duduk? Ayo berdiri di depan, mana tugasnya buat syarat mengikuti ulangan hari ini?”
“ULANGAN??? Kog mendadak banget sih pak?”
“Udah gak usah banyak protes, mana tugasnya?”
“Aduh, tugas yang mana lagi? Aku yakin banget kalau aku belum kerja karena semalaman aku gak ngerjain tugas apapun.” Ungkap Celly dalam hati.
“Mana?? Cepet!!”
“Bentar Pak, ini masih dicari.”
“Sampe hitungan 3 gak ada silakan menutup pintu dari luar. Satu,,, dua,,, tiga,,,”
“Pak, aduh.. Pliiss pak ijinin saya ikut ulangan. Celly mohon pak!”
“Ayo cepet tutup pintunya!”
“Iya pak, iya.” Ungkap Celly pasrah.
Akhirnya Celly pun keluar dan meratapi nasip didepan pintu yang berbalutkan cat kayu berwarna biru langit. Celly hanya bisa diam dan menyiapkan mental, karena pasti Celly akan di olok-olok setiap orang yang sedang lewat.
Hampir semua orangyang lewat mengolok-olok Celly, tapi biyarpun brgitu masih ada juga yang peduli sama Celly. Dia datang dengan membawa dua ice cream ditangannya.
“Ini buat kamu?” kata cowok itu sambil memberikan satu dari ice cream yang dibawanya untuk Celly. Celly agak kaget waktu ada seorang cowok yang datang padanya, karena pada saat itu Celly menundukkan muka, jadi Celly gak tahu kalau ada yang datang.
“Buat apa?” jawab Celly malu.
“Buat dimakanlah, terima aja.”
“Terima kasih. Kamu kan yang tadi aku tabrak? Kog kamu gak marah malah peduliin aku?”
“Mau tahu? Jangan disini deh ngomongnya, gak enak. Ayo ikut aku!!”
“Kemana?”
“Kamu sudah dikeluarkan kan dari kelas? Terus ngapain cuma diam disini dengerin ejekan setiap orang yang lewat, lebih baik ngilangin penat.”
“Iya aku juga pengennya gitu. Tapi mau kemana? Lagian aku gak punya temen, temenku ada didalam kelas.”
“Maka dari itu aku yang ngajak kamu biar kamu ada temennya. Ayo!!” cowok itu sudah memegang tangan Celly dan menariknya.
“Tunggu!!! Aku mau dibawa kemana ini?” tanya Celly takut.
“Kita bolos. Keluar dari sekolah yang penuh dengan ejekan ini dan jalan-jalan keliling kota.”
“Kamu gak takut dimarahi gurumu? Aku juga gak mau kamu relain sekolah hanya buat nemenin aku?” Celly mendadak berhenti berjalan.
“Ih, siapa juga sih yang mau bolos Cuma gara-gara cewek kayak kamu. Jangan GeeR dulu donk.” Elak cowok itu.
“Lah terus ini apa namanya kalau bukan nemenin aku?”
“Aku lakuin ini karena aku....., sudah nanti aja aku jelasin dijalan. Kalau kamu gak mau ikut aku selamanya gak akan pernah aku kasih tahu alasanku.”
“Ehm, iya sudah. Ayo kita pergi.” Jawab Celly.
“Kamu tunggu di gerbang samping, biar aku ambil sepeda motorku dulu.” Kata cowok itu sambil melepaskan tangan Celly yang tidak sadar selama perjalanan dipegangnya terus.
Lima menit kemudian cowok itu datang dengan membawa sepeda vespanya berwarna biru muda. Celly yang belum pernah sama sekali menaiki sepeda kuno itu bingung sendiri bagaimana nanti dia akan duduk.
“Ayo naik!!!” kata cowok itu.
“Bagaimana naiknya? Aku kan pakek rok pendek?”
“Kamu ambil ditasku ada celanaku, biarpun pasti kebesaran buat kamu yang penting kamu bisa naik. Kamu ganti dulu. Jangan lama-lama, lima menit.”
“Hah!!! Lima menit?? Gak mungkin!! Kamar mandinya jauh.”
“Cepet, aku hitung mulai sekarang! Satu, dua, ...”
“Iya aku lari!!!” teriak Celly sambil berlari menuju kamar mandi. Cowok itu hanya tertawa melihat tingkah Celly yang seperti orang ketakutan kayak di kejar-kejar setan.
Setelah lima menit Celly pun kembali dengan penampilan yang amat lucu. Memakai baju seragam dengan dasinya berwarna merah tua dan bawahan celana jeans se-lutut yang pasti besar banget buat Celly.
“Hahahahaa... kamu lucu. Kayak ondel-ondel dibuang.” Kata cowok itu sambil tertawa setelah melihat penampilan Celly.
“Kalu kamu terus tertawa aku gak mau pergi.” Jawab Celly cemberut.
“Ok ,aku gak ketawa. Sudah siap?”
“Siap.”
Setelah Celly naik, cowok itu mulai menarik gasnya dengan lembut.
“Kamu itu orangnya gak punya rasa perhatian banget ya?” kata cowok itu.
“Kog bisa gitu? Aku tipe orang yang perhatian tuh?” Jawab Celly.
“Perhatian apa? Masak dari tadi sampe sekarang sudah aku bonceng aja kamu gak pernah tanya namaku? Iya kalau aku sudah tahu nama kamu gara-gara tadi pagi itu.”
“Hahahaaa... Kamu PeDe banget sih? Lagian siapa yang pengen tahu nama kamu? Jawab Celly sambil tertawa, menganggap bahwa itu lucu.
“Kog ketawa? Aku serius, itu tandanya kamu orang yang gak perhtian dengan orang-orang yang ada disekitarmu.
“Ehm, masak sih? Gitu ya? Iya udah deh. Mang nama kamu siapa?” kata Celly menahan kemarahan cowok itu sebelum keluar.
“Katanya gak pengen tahu namaku? Kog tanya?”
“Ehm, itu kan tadi, kalau sekarang aku pengen tahu banget.” Jawab Celly.
“Aku Messakh. Tapi dipanggil Mess aja, kelas XI IPA-1.”
“Waduh,, niat banget sih jawabnya?? Nyantai aja loh.”
“Maaf, aku niat aja, biar kamu tahu tentang aku, karena aku baru sekali ini bonceng cewek dimotor kesayanganku.”
“INI?? Motor kesayangan? Mang motor kamu satu ini aja ya?” jawab Celly dengan nada agak sedikit menghina.
“Kalau kamu tahu aku, kamu gak akan ngomong kayak gini.”
“Maksud kamu?” tanya Celly bingung.
“Berarti kamu sama kayak cewek-cewek lain. Emang bener ya? Cari cewek yang gak matre itu susah banget.”
“Eits,, tunggu-tunggu. Jangan salah sangka dulu gitu dong, aku gak seperti yang kamu kira. Aku bukan cewek matre. Kalu aku matre mana mau aku tadi naik dimotormu ini? Dah butut, kuno, jelek lagi!!!” kata Celly asal nyablak. “Eits, aduh! Bodoh, bodoh, bodoh, ngomong aku barusan? Kog bisa keceplosan sih?” kata Celly dalam hati.
“Iya, iya, iya, percaya kog.” Jawab Mess singkat.
“Mess, jangan marah ya? Maaf!!! Asal kamu tahu. Aku gak pernah mandang orang dari materinya.”
“Apa buktinya?” tanya Mess menantang minta bukti.
“Ehm,, gimana ya cara buktiinya? Aku juga bingung! Emang kamu minta bukti apa?” tanya Celly sudah kehabisan akal.
“Aku mau kamu bilang kalau kamu suka sama aku sekarang diatas motor yang kamu bilang butut ini.” Tantang Mess.
“Aaappaaa.........?????? Aku bilang suka sama orang yang gak aku kenal? Jangan ngaco deh? Omongan kamu itu mustahil banget.” Celly marah-marah karena gak terima dengan tantangan Mess.
“Ya sudah, berarti memang sudah jelas kamu gak suka sama anak yang gak punya harta alias matre.”
“Heh,, kalau omong dijaga dong!!! Pokoknya aku bukan cewek matre, dan asal kamu tahu, cewek bilang suka sama cowok lebih dulu itu hal yang sangat memalukan buat aku.. Ngerti kamu??” Nada bicara Celly sudah mencapai puncak. Celly sudah sangat kesal dan tidak terima atas perkataan Mess yang dianggapnya sebagai hinaan.
“Mbak,, kalau emang kamu gak merasa seperti itu lalu kenapa kamu mesti marah-marah kayak gitu? Kalau emang iya akui aja napa? Gak usah pakai ngelak kayak gitu..!!! biyarpun kamu terus jawab tuduhanku itu, wajahmu dan sikapmu itu sudah nunjukin kalau kamu memang matre.”
“Mess,, AKU BENCI SAMA KAMU....!!! Puas....!!!!” Celly pun langsung menangis tak tertahan di pundak Mess. Seketika Mess langsung menghentikan laju sepeda motornya itu dan memeluk Celly. Hampir setengah jam Celly menangis di dalam pelukan Mess, di pinggir jalan sambil duduk dibawah motor. Mess juga tak bicara sepatah katapun saat Celly sedang menangis dipundaknya.
“Mess,,,”
“Iya Cell, aku disini. Cell maafin aku, gak ada maksud aku buat bikin kamu nangis kayak gini.”
“Sssuuutttt... Mess, AKU SUKA KAMU.” Kata Celly seketika sambil menatap mata Mess dalam-dalam. Messakh pun tak percaya mendengar kata-kata Celly, karena pada awalnya Mess memang tak bermaksud menguji Celly sampe seperti itu. Mess hanya iseng dengan rasa ingin tahunya terhadap sifat Celly, Karena Mess seperti mempunyai perasaan lain terhadap Celly.
“Cell, maaf. Aku beneran gak.....”
“Sudah Mess,, aku gak mau kamu minta maaf lagi. Aku bilang gitu bukan karena tantanganmu yang bodoh itu, tapi karena semua yang sudah aku alami hari ini dengan kamu. Satu lagi, akan aku hapus kata-kata di kamusku yang berbunyi “tidak akan bilang suka sama cowok lebih dulu”, karena aku sendiri yang sudah melanggarnya hari ini.”
“Celly, aku cinta sama kamu. Kamu beda sama cewek lain yang gak mau terima aku dengan keadaan seperti ini. Cell, terima kasih. Kamu sudah berhasil buktiin itu ke aku. Cell, mau jadi pacarku??”
“Mess, kamu serius?”
“Iya Cell. Aku serius, peluk aku kalau kamu terima aku.” Tak lama untuk Celly memikirkan jawabannya untuk Mess, seketika Mess pun langsung dipeluk oleh Celly di bawah saksi motor butut milik Mess. Setelah itu mereka berdua mulai beranjak pulang karena tanpa terasa hari sudah menelan sang mentari.
“Oh iya Mess. Tadi katanya kamu mau cerita kenapa kamu ngajak aku bolos?” Celly menagih janji Mess.
“Oh iya, aku lupa. Beneran kamu pengen tahu?”
“Iya, sudah penasaran banget.” Kata Celly tak sabar.
“Yang jelas bukan gara-gara aku suka sama kamu terus mau nemenin kamu.”
“Ye, siapa juga yang punya fikiran kayak gitu. Jangan berprasangka buruk gitu donk.”
“Tapi benran jangan sampai marah.”
“Iya janji aku gak marah.”
“Aku lakuin itu karena aku memang selalu melarikan diri dari sekolah saat jam pelajaran, berhubung tadi aku gak punya temen, terus aku lihat kamu di ejekin banyak orang, akhirnya aku ajak kamu biyar kamu gak di ejek lagi, tapi bukan berarti aku peduli sama kamu. Hampir setiap hari, aku bosan disekolah karena selalu diawasin sama mamaku.” Kata Mess gak jelas.
“Maksudmu? Aku gak paham sama sekali.”
“Mamaku yang punya sekolah itu, jadi setiap hari aku diawasi oleh orang-orang suruhan mamaku. Aku jadi gak tenang, terus akhirnya melarikan diri seperti ini deh.”
“WHHHAAATT.....?? Serius Mess? Kamu anak Bu. Teresa? Pemilik sekolah kita?” Celly hampir tidak percaya setengah mati mengetahui keberadaan Mess yang ternyata adalah anak dari pemilik sekolahnya yang kaya raya itu.
“Iya, pliis jangan marah. Aku tidak bermaksud bohong. Aku hanya ingin mencari cewek yang tidak pandang materi. Karena itu juga aku selalu pergi dengan motor bututku ini. Tapi aku senang, akhirnya aku bisa temuin apa yang aku cari di dalam kamu Cell, cewek cantik yang juga tidak matre. AKU SAYANG KAMU CELLY.”
“Aku juga sayang kamu Mess.”

TAMAT

By : Oktafia Putri K.