Jarum jam melangkah dengan gemulainya, terpasang rapi didalam bingkai kotak yang menempel didinding muka kelas, tangan-tangan kecilnya terpanah ke angka dua, berarti sekarang waktunya bel pulang sekolah, karena sekarang sudah jam 02.00 siang. Setelah bel pulang berbunyi, langsung kupanggul tasku dan berjalan pulang tanpa pamitan dulu ke Vian karena aku sudah amat kelaparan. Keuntunganku punya kostan yang dekat dengan sekolahan, jadi bisa cepat sampai dan segera menyantap makan siangku.
“Siang mbak!!!” ada tangan yang menepuk pundakku dari belakang. Sebel banget aku, pulang buru-buru ingin segera sampai rumah tapi masih ada lampu merah yang menyebabkan aku terpaksa menghentikan kakiku melangkah. Ku balikkan wajahku dengan muka kecut, tapi setelah kulihat pemilik tangan itu tadi, seketika mukaku langsung berubah seratus persen menjadi sumringah dan lesung pipiku menampakkan dirinya dengan malu-malu. Bagaimana tidak akan sumringah jika yang berhadapan denganku sekarang adalah kembarannya Justin Bieber. Bayangkan saja betapa gantengnya dia, senyumnya yang manis bagaikan telaga madu, imutnya, ya Tuhan aku tidak bisa mendiskripsikannya lagi, aku sudah kehabisan kata-kata saat bertatap muka dengannya. Jantungku rasanya berhenti memompa darah, dan hatiku rasanya seperti copot hilang entah kemana. Cowok ini cakep banget, abang Sigit Purnomo (Pasha) yang aku idolakan dari dulu tidak apa-apanya dibanding dia.
“I....ii....iya.... apa?” tidak, mulutku seperti di lem sampai tidak ada kata-kata yang terucap dengan benar, aku bingung harus berkata apa, inikah yang dinamakan ‘salting’ ???
“Gini mbak, saya mau tanya alamat ini. Saya orang baru disini, kemarin saya baru pindahan dari Bandung. Itu rumah saya.” Dia mengangkat telunjuknya kesebuah bangunan besar ditepi jalan, yang aku yakini kalau itu bukanlah sebuah rumah, tapi sebuah hotel. Kalau itu memang rumahnya, berarti cowok ini anak orang kaya dong. Gila,,, sempurna banget hidupnya, pasti dia idola semua cewek se-Bandung dulu. Gimana bukan idola semua cewek, dia Justin Bieber banget, sudah cakep kaya lagi.
“Iya, alamat mana? Saya bisa maklum kok, kan kamu memang orang baru disini.” Jawabku dengan sedikit lancar dengan pemikiran positif bahwa yang ada didepanku sekarang bukanlah cowok jadi-jadian. Kemudian dia mengulurkan selembar kertas, dan dengan segera akupun menyambut kertas dari tangannya itu, berharap jika jemariku bisa bersentuhan dengan jemarinya.
“Jalan Indah Permata No. 5, bukannya ini alamat kostanku? Iya benar ini alamat tempat tinggal baruku.” Gumamku dalam hati.
“Iya aku tahu alamat ini, memangnya kenapa?” tanyaku penasaran kenapa cowok seganteng ini mencari kostan tempat aku tinggal. “Itu rumah tante saya mbak. Saya mau main kesitu.” Terangnya singkat.
“Oh iya, kebetulan dong kalau gitu, saya kost disitu. Kalau mau main kesana bareng sama aku aja, ini aku juga mau pulang.”
Yess!! Dapat kesempatan jalan sama artis Bandung nih. Aku tidak akan lewatin kesempatan ini. Dia seperti emas permata yang ada didepan mata dan aku harus memilikinya.
“Namanya siapa mas?” lakuku sok imut, tapi sebenarnya aku memang imut sih. Hehehe,,,
“Oh iya, sampai lupa. Aku Andre, lengkapnya Frasiscus Andre Pratama.” Tangannya terulur ke depanku dan tanpa aku sia-siakan dengan lama tangankupun ku ulurkan untuk menghampirinya.
“Aku Callista Vialine Cristy, tapi cukup dipanggil Via saja.” Lalu kutatap kembali tebaran aspal didepankku, begitupun dengan Andre. Rumah yang kita tuju sudah ada didepan mata, tinggal 10-15 langkah lagi. Berarti sebentar lagi aku akan berpisah dengannya. Kira-kira bisa ketemu lagi gak ya?
17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, baru seminggu gak ketemu Andre kok rasanya sudah kangen banget ya, seperti sewindu gak ketemu. Padahal aku bertetangga sama dia, tapi kenapa aku gak bisa lihat batang hidungnya setiap hari. Apa mungkin dia kembali ketanah kelahirannya? Di Bandung? Tidak, tidak, jangan sampai ini terjadi, aku tidak mau jika kemarin menjadi pertemuanku yang pertama dan terakhir dengannya. Aku harus cari tahu tentang ini. Apa aku harus tanya ke B.Rose? ah, gak mungkin, malu dong. Tapi aku juga tidak tahu nomor handphonenya. Apa aku harus kerumahnya untuk mencari informasi tentang Andre? Tidak, dimana harga diriku?
Aku tidak ingin memikirkannya lagi, karena dia aku sampai lupa belum makan dari tadi pagi. Kebetulan sekarang hari Minggu, aku mau pergi cari makan dipasar minggu aja sambil menghilangkan nama Andre dari pikiranku.
Aku melangkahkan kakiku dari kamar untuk beranjak pergi kepasar minggu. Tanpa ada bayangan yang terlintas terlebih dulu diotak, saat aku membuka pintu ada sesosok tubuh yang tinggi, rambutnya lurus tapi bermode mengikuti tren terbaru. Tapi dia membalikkan wajahnya sehingga aku tidak bisa mengoreksi wajanya. Dari bentuk badannya mulai ujung kaki sampai ujung rambut sepertinya sosok ini sudah tak asing lagi bagiku, tapi siapa?
1, 2, 3 ya!!! Dia membalikkan wajahnya, “ANDRE”??? badan yang ada didepanku ini ternyata Andre, kalau dilihat-lihat semakin lama, semakin ganteng aja ya? Hehe
“Kamu mau cari siapa?” tanyaku ke Andre masih dengan menatapnya dipenuhi dengan perasaan yang berbungah-bungah.
“Aku cari kamu Via, tapi sepetinya kamu mau keluar?”
“Ehm, gak kok. Cuma mau beli makan sebentar. Emangnya ada apa?” tanyaku penasaran dan kali ini hatiku dua kali lipat lebih berbungah-bungah dari yang tadi. Pastinya memang harus begitu dong, masa sih Dewi Via dicari Arjuna Andre tidak senang, kan mustahil banget.
“Aku pengen ngajak kamu sekarang nemenin aku jalan-jalan ke pasar minggu. Gimana, bisa gak?” kalau dilihat dari mukanya, dia seperti sangat berharap ingin sekali pergi ke pasar minnggu sama aku, tapi memang sudah pasti jika aku akan mengabulkan keinginannya itu.
“Iya, aku bisa kog. Kebetulan banget aku mau beli makannya tadi juga dipasar minggu.” Jawabku.
“Oh ya? Kebetulan banget dong kalau gitu. Ayo berangkat sekarang, tunggu apa lagi?” ujar Andre sambil menarik tanganku kedepan gang kostan.
“Andre mau kemana? Kan angkutan umumnya disana?” tanyaku heran karena Andre menarikku ke arah yang berlawanan dengan tempat angkutan umum yang menuju ke pasar minggu.
“Kenapa mesti naik angkot? Akukan bawa kendaraan.” Dia terus menarik tanganku dan memegangnya dengan erat. Ada yang berdebar-debar dalam diriku, mungkin karena efek samping dipegang sama cowok ganteng. Aku mencari sebuah sepeda motor tapi tidak ada dihadapanku, hanya terparkir satu unit Honda Jazz berwarna merah darah yang bersih nan indah. Semakin dekat, semakin terlihat mengagumkan.
“Silakan masuk!!!” Andre membukakan pintu mobil itu tadi buat aku. Aku kira kita akan pergi naik sepeda motor, ternyata dengan mobil yang terlihat didepan mataku tadi.
“Oh, iya terimakasih banyak.” Sahutku singkat seperti ada yang sedikit mengganjal dipikiranku, kenapa tiba-tba Andre mengajak aku keluar setelah satu minggu dia tidak tampak di kedua bola mataku ini? Kenapa juga Andre tidak malu jalan dengan aku yang hanya cewek kampung yang berpakaian celana pendek yang kumal dan kaos seadanya, bersepatu sobek dan jelasanya tidak begitu cantik seperti seorang Dewi.
“Andre jalanya pelan-pelan aja ya! Aku tidak biasa naik mobil, jadi setiap naik mobil selalu pengen muntah.” Ya memang begitulah aku, cewek kampung yang tidak sering naik mobil, bahkan hampir tidak pernah. Mungkin satu tahun hanya 3-4 kali, itupun aku pasti selalu mabuk. Dikampungku tidak ada yang namanya angkutan umum, karena orang kemana-mana selalu jalan kaki. Mungkin hanya beberapa orang yang punya mobil karena memang mereka mampu, jadi warga kampungku akan menyewa mobil-mobil itu tadi apabila ingin bepergian ketempat jauh saja.
“Iya aku ngerti. Tenang aja, kamu aman denganku.” Lontaran kalimatnya keluar disertai lambaian tangan yang lemah gemulai diatas rambutku.
“Kasih peganglah tanganku, dan tatap mataku, betapa aku mencintaimu...” alunan lirik yang bercampur dengan syairnya itu terdengar begitu manis dan cocok untuk menggulai hati yang sedang pahit. Saat ini aku berada ditengah-tengah para pengunjung pasar minggu. Aku mencari sesosok cowok yang tadi berangkat dengan aku, sepertinya dari awal masuk tadi aku selalu disampingnya, tapi kenapa dia sekarang lenyap bagaikan ditelan bumi begitu saja.
Kucari dan terus kucari Andre. Seketika mataku tertuju ke tenda panggung yang ada disudut kiri dari banyaknya tenda yang berdiri disini, ternyata dari panggung irulah meluncur untaian lagu yang terdengar merdu dari tadi, bahkan hingga sekarang pun lagu itu masih mengalun dengan begitu merdunya. Tunggu dulu, siapa itu? Sipakah vokalis yang ada dipanggung itu? Kenapa wajahnya menyerupai Andre?
Iya, ternyata benar itu memang Andre, tidak salah lagi. Cowok yang berkaos merah, bercelana jeans dengan postur tubuh yang sangat identik. Aku begitu salut dengannya, tidak kusangka jika dia memiliki suara yang indah dan menawan.
Terus kudengarkan lagu yang sejauh ini masih melengking dari mulut Andre. Mungkin sudah menyita waktu sampai tiga menit untuk menyanyikan lagu yang berjudul “kasih” dari group band Salju itu, dan kini akhirnya usai sudah.
“Untuk semua yang ada disini, terimakasih banyak. Lagu ini saya persembahkan untuk gadis cantik yang disana, yang pakai kaos putih, VIA!!” teriakan Andre yang begitu semangat itu menggelegar diseluruh penjuru pasar minggu pada saat itu, sudah gitu dia mengacungkan jari telunjuknya kearahku. Aduh,,, betapa malunya aku begitu banyak ratus jiwa yang memandangi aku, kenapa sih Andre ada-ada saja?
“Ayo jalan lagi!” dengan santainya Andre menarik tanganku dari antara makhluk hidup disini, bagaikan malaikat yang tak pernah malakukan dosa saja.
“Ndre, aku boleh tanya suatu gak?” rasa bergejolak hati ingin bertanya sesuatu kepada cowok misterius yang penuh cinta ini.
“Ya pasti bolehlah, kamu ada-ada aja pakek minta izin segala. Memangnya kamu mau tanya apa?” sahutnya dengan penuh rasa percaya diri.
“Kemarin satu minggu kamu menghilang, tiba-tiba kamu kembali dengan kejutan yang begitu banyak buat aku. Memangnya kamu kemarin kemana aja sih?” dengan sedikit nekat kuberanikan mulutku menganga dan mengeluarkan kalimat itu.
“Nanti kamu akan tahu sendiri kok Via kemana kemarin aku pergi. Tapi bukan sekarang saatnya.” Terangnya begitu singkat. Aku mampu memahami alasannya itu, tapi tetap saja aku tidak mengerti akan maksudnya.
Ternyata asyik juga jalan sama Andre. Aku merasa senang, nyaman, bisa nyambung, pokonya asyik banget deh. Disini kita beli banyak banget loh, kalung bentuk hati, gantungan kunci, topi, kaos, makanan tradisional, gula kapuk, dan yang pastinya semua itu buat kita berdua, bukan cuma aku saja, maksudnya setiap apa yang dibeli selalu beli 2, jadi aku dan Andre punya sama. Pasti tidak sedikit uang yang dikeluarkan sama Andre, kalau dikira-kira sih dua ratus ribu saja pasti ludes.
Aku tidak pernah menginginkan semua ini dari Andre, aku sudah bersi keras menolaknya, tapi percuma saja Andre tetap saja ngotot mau memebelikan semuanya ini. Apa yang bisa aku perbuat selanjutnya? Ya aku cuma bisa pasrah saja. Bila andre yang minta itu, aku seperti luluh tidak bisa menolaknya.
Aku menyudahi petualanganku dengan Andre hari ini. Karena tidak menghiraukannya berjalannya waktu, ternyata kita sudah tiga jam disini. Kugiring Andre untuk mau melangkahkan kakinya menjauhi keramaian ini untuk pergi menjemput mobilnya di parkiran dan mengantarku pulang.
“Andre, thanks ya buat hari ini. Aku seneng banget.” Aku mengawali percakapan di mobil dengan Andre.
“Iya sama-sama. Aku juga terima kasih banyak kamu mau menemani aku mengisi hari-hariku.”
Akhirnya sampai rumah juga. Aku langsung turun dari mobil dan melaju pulang menuju kost-kostan.
“Baru saja mbak saya mau pencet bel, eh ternyata keduluan mbak Ita buka pintunya.” Ujarku saat bertatap muka dengan mbak Ita didepan pintu.
“Bukannya keduluan, tapi aku memang sengaja nungguin kamu!!!” sahutnya jutek dengan raut wajah yang menyebalkan.
“Memangnya ada apa mbak? Kok tumben-tumbennya nungguin saya, tadikan saya sudah pamit waktu mau keluar.” Sahutku masih ramah.
“Enak ya main terus? Eh, loe disini itu bukan ratu!!! Ngaca dong! Cuma dari desa saja bangga. Sana kamu masak nasi.” Ucapan mbak Ita yang ketus itu terdengar amat sangat menyeramkan dikupingku. Tanpa ada jawab lagi dari mulutku, langsung kubopong tempat nasi didalam lemari untuk dicuci dan menanak nasi lagi.
“Kenapa sih mbak Ita seperti singa yang selalu siap menerkam buat aku?” ucapku dalam batin. Mungkin memang karena sifatnya itu. Dari 24 jam dalam sehari aku pasti selalu dapat jatah terima sekarung cacian dari mbak Ita. Tapi sudahlah, yang penting aku selalu siap jalani hari-hari yang jahat itu. Hati kecilku sebenarnya menjerit minta dikeluarkan dari kandang singa ini, tapi faktor ekonomi keluargaku tidak akan cukup membiayai aku untuk mencari kostan lain dan keluar dari sini.
Aku mau bertahan disini karena kostan inilah yang paling murah. Jadi aku tidak akan mempersulit keadaan ekonomi keluargaku dikampung hanya karena masalah sepele seperti ini. Aku akan menganggap semua ini adalah rintangan untuk menempuh kesuksesan. Ya, anggap saja semacam penguatan mental. Tapi memang benar juga sih, karena buat mereka yang tidak kuat mental, satu hari kost disini saja bisa mati berdiri. Tidak usah cari contoh perumpamaan, dalam kenyataanpun sudah pernah terjadi. Masih ingatkan dibagian ‘B’ aku mengatakan anggota kost ada tujuh orang (tanpa bapak dan ibu kost), tapi sekarang hanya tinggal dua orang, yakni aku sama mbak Ita. Lima cewek penghuni bangunan mungil ini sudah mengundurkan diri dari sayembara masuk kandang singa lebih lama. Kesaksian mereka secara keseluruhan dapat disimpulkan dengan satu alasan yaitu ‘tidak mau mati sia-sia diterkam singa dalam keadaan hidup-hidup’. Alasan mereka konyol ya? Hampir sama sih dengan aku, tapi aku tidak takut kalau hanya masih digertak mati penasaran, yang paling aku pikirkan disini adalah aku tidak mau batinku mati tersiksa karena penuh dangan sindiran maut.
Kata-kata mereka memang seperti jarum semua, lancip. Masalah kecil saja bisa berubah jadi neraka jahanam kalau ketahuan mereka. Tidur siang pasti memang hak yang patut kita nikmati bukan? Tapi kalau disini ceritanya bisa jadi lain. Buatku disini tidur siang sekarang bukanlah hak, melainkan kewajiban yang haru dihindari. Jika dirasakan, memang benar bahwa neraka itu tidak akan berhawa dingin, tapi semakin hari akan terasa semakin panas dan dapat membakar.
Setelah hampir delapan bulan aku tinggal dirumah ini, aku baru sadar bahwa aku memang salah memilih jalan hidup. Cobaan demi cobaan datang beruntut-runtut seperti tiada hentinya. Yang paling tidak aku sangka, disini aku seperti jadi seorang pesuruh, padahalkan disini aku juga bayar. Mungkin hari-hari yang aku jalani memang terlihat biasa, tapi sebenarnya aku jalani itu semua dengan penuh siksaan batin.
“Buk, Pak, saya pamit berangkat sekolah dulu.” Pamitku kepada kedua orang tua kostku itu.
By : Oktfia Putri K.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar