Celly, kog malang sih mbak sampean?
GILA, itulah satu kata yang dipilih oleh Celly buat gambarin apa yang dia alami hari ini. Deskripsinya panjang, mulai dari bangun tidur sampai dia mau tidur lagi. Kalau dirinci dalam daftar kegiatan, bisa dikasih tanda kalau 80% dari kegitannya itu gila, hehee.
Yang hanya diawali dari telat bangun saja, bisa membuat kegiatan satu hari itu berantakan, padahal kalau dipantau dengan cermat, hampir setiap hari Celly memang selalu bangun kesiangan. Tapi siapa sangka kalau telat bangun yang satu ini membuat malapetaka besar bagi Celly. Bangun tidur telat 15 menit, tujuan utama setelah bangun adalah pegang selimut dan melipatnya, tapi setelah Celly bangun, diamatinya sarung bantal yang merona kuning kini bercetakkan peta-peta pulau dan provinsi alias ngiler. Wiihh, kalau dalam bahasa jawa, kopros iku jenenge mbak, hehehe. Apa kata ‘MAK’ku, kalo tahu anak perawannya ngiler? Celly sudah gak peduli dengan provinsinya itu, dia aja sudah telat bangun, kalau ngurusi provinsinya itu pasti sekolahnya juga akan telat. Langkah penyelamatanpun dilakukan, membalik bantal, hehehe.
Lagi saat Celly menarik selimutnya, bed cover yang serasi dengan bantalnya sudah mendapatkan warna baru, merah merekah waahhh . Buat para cewek pasti sudah bisa nebak itu cat apa? Bukan cat minyak loh ya, cat alami alias menstruasi. Wah kalau masalah satu ini cara penyelamatan yang cepet gimana ya? Celly nyerah deh, mau disembunyiin sudah keduluan ketahuan mamanya. Akhirnya suruh bersihin dulu, tapi yang namanya mama kan gak mungkin tega anaknya telat sekolah, kali ini Celly selamat.
Masalah dirumah selesai, Celly tinggal berlari cepat menuju ke sekolah yang jaraknya kurang dari satu km dari rumahnya. Gak enak sih kalau dipikir, lagi dapet lari-lari lagi, kasihannya mbak Celly.
“Cell...!!!” suara panggilan dari belakang.
“Ya ..” Jawabnya sambil menoleh kebelakang.
“Ahhhh .........!!!!!!! ( Gubrak )..” suara Celly dan soundtracknya terdengar bersamaan saat kakinya termakan lubang got yang ada di depannya.
“Cell, sakit ya?” tanya anak itu. “Gak. Cuma terkilir.” jawabnya.
“Oh. Ya sudah. Kalau gak sakit gak perlu bantuanku dong?”
“Auhh, sekarang baru terasa sakitnya.” Kata Celly sambil muka memelas seperti orang meminta sebuah nasi, hehee.
Wah, kalu dipikir-pikir Celly ketahun bohongnya tuh! Masak abis bilang gak sakit hanya karena mau digendong langsung bilang sakit. Tapi siapa juga yang gak mau digendong sama cowok yang gagah, ciecie. Kalau dari fisik memang sih dia oke, tapi kalau dari muka sebernanya pas-pasan aja sih. Bahkan hampir mendekati abstrak, hehehe. Cowok perumahan sebelah, namanya Anggara. Hampir sama dengan nama kucingnya Celly dirumah tuh, hehehe. Anggara dan Celly juga satu sekolah, tapi tidak pernah bersamaan berangkatnya biarpun tetangga dekat, mungkin satu bulan berangkat bersama hanya satu kali.
Karena muka Celly yang tadi sangat melas, berhasilah dia membuat hati Anggara luluh. Berangkat sekolah dengan berada diatas punggung Anggara ternyata membuat Celly tidak nyaman. Benar sih dia kekar, itu gak masalah. Tapi sepanjang perjalanan semua mata yang ada selalu melihati mereka, semuanya tanpa terkecuali anak yang baru masuk TK pun.
“Ngga, ngerasa gak semua mata tertuju pada kita?” tanya Celly sambil nyengir.
“Jangan GR, mereka thu ngliati aku, bukan kita.” Bales Anggara sok.
“Yeeee, GR’an juga kamu. Hihh,,, yeeekk!! Udah-udah turunin aku sekarang!” pinta Celly sambil memukul kecil dipundak Anggara.
“Heem-heem sabar. Kurang juga lima langkah dah sampai gerbang sekolah. Kan tanggung.”
“Aduh!! Pokoknya turunin aku disini! Gak mau sampai digerbang sekolah.” Celly sudah mulai marah.
“Iya mbak yu.” Anggarapun menurunkan Celly disitu juga dan meninggalkan Celly dengan berjalan lebih dulu.
Sesampainya di sekolah, Celly harus melapor ke guru piket dulu untuk mendapatkan surat izin agar bisa masuk kelas karena dia memang telat. Setelah dia muter-muter hampir sepuluh menit mencari guru piket, Celly tiba di kelas XII IPA-10. Padahal posisi itu berada jauh dari kelasnya di X IPA-1, tapi Celly belum juga nemuin petugas piketnya.
“Cell, kamu telat ya?” tanya Rina yang jaraknya tidak jauh dihadapannya.
“Iya Rin. Tunggu aku, kita cari petugas piket bareng.” Kata Celly sambil lari menuju Rina.
“Cell awas it....(Bruuuak)” teriak Rina belum selesai tapi sudah kepotong sama atraksi Celly.
“Siitt,,, Oh My God. Sakit..!!” kata Celly benar-benar kesakitan kali ini.
“Cell? Kamu gak apa-apa? Sakit gak?”
“Gak! Iya ya lah sakit Rin. Dibantu napa aku! Jangan dilihatin aja.” Ujar Celly marah.
“Oh heem. Bentar-bentar.”
Rinapun membantu Celly berdiri. Iya, memang anak ini beda banget sama yang lainnya. Perasaan ada aja yang berantakin harinya. Butuh kesabaraan lebih kalau jadi Celly buat jalani harinya.
“Cell, kamu lagi dapet ya?” tanya Rina agak aneh.
“Iya, memang kenapa? Kan wajar toh, jadi muka kamu gak usah aneh gitu.” Celly tersenyum.
“Bukan. Tapi Itu,,”
“Itu apa sih? Kalau ngmong jangan setengah-setengah.” Celly nerocos.
“Diam bentar napa? Biyar aku ngomong dulu. Itu Cell!”
“Apa sih? Kamu buat aku takut aja.”
“Kamu bocor.”
“Whatttt???? Yang bener aja? Masak sih?” tanya Celly gak percaya.
“Iya. Bener. Kamu lihat di kamar mandi kalau gak percaya.”
“Aduh. Iya udah aku ke kamar mandi dulu ya. Kamu ikut ya!!” ajak Celly memaksa.
“Yee, gak mau. Aku juga sudah telat kog, kamu sendiri aja kesana. Dah ya..”
Rinapun pergi ninggalin Celly sendiri. Sekarang Celly sudah sangat marah, tapi gak bisa di lampiaskan ke siapapun, hanya bisa memendam dalam hati saja. Celly menemukan kamar mandi yang ada di dekat ruang KOPSIS, karena terlalu bingung Celly gak lihat dulu label yang tertera diatas pintu dan langsung masuk aja. Untung belum sampai masuk ke dalam, masih dimuka pintu, ada penghuni adam yang keluar dari ruangan itu.
“Hey, kamu Celly anak kelas X kan? Kog ada disini?”
“Udah gak usah banyak omong. Aku mau ke kamar mandi dulu, darurat.” Potong Celly.
“Tapi Lok ini penting, jadi aku harus ngomong. Kamu salah kamar mandi sayang. Ini cowok, beneran mau masuk kedalam sini?”
“Oh iya? Ya ampun,,, sorry”!!! Sorry banget ya!” kata Celly sambil melipat tangannya didepan muka. Lalu Celly langsung membalikkan badan dan menuju ruangan yang benar.
“Cell, yang kamu tutupin masih kelihatan tuh!!” kata cowok itu sambil tersenyum kepada Celly.
“Heh!!! Haduh..!!!” muka Celly langsung merah saat itu juga karena rasa malu yang tak tertahan. Sudah bocor, malah ketahuan kakak kelas cowok lagi. Huhh,, dosa banget rasanya, sangat memalukan.
“Untung aja aku bawa ganti. Mama memang paling tahu apa yang aku butuhkan. Hehee,, aman.” Celly senang karena tertolong, mamanya yang sudah mempersiapkan keperluan sekolanya setiap pagi ternyata juga membawakannya ganti pada saat yang tepat. Betapa senengnya Celly kali ini.
Setelah selesai ganti Celly menengok pada jam tangan putih yang melingkari tangannya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 7.10, berarti lima menit lagi bel tanda jam pertama selesai akan berbunyi. Celly pun langsung keluar dari kamar mandi dan meneruskan pencarian guru piketnya. Memang kali ini Celly lagi hoki, tepat saat Celly keluar guru piket lewat didepannya.
“Bu Ve, tunggu!!” teriak Celly pelan.
“Celly, kenapa? Telat lagi??? Haduh-haduh, tiada hari tanpa telat. Setiap hari selalu begini, saya sudah bosan mencatat nama kamu tahu? Lihat point kamu dibuku pelanggaran sudah berapa puluh? Kalau begini terus kamu juga bisa gak naik kelas. Lagian ...”
“Bu maaf, sudah lima menit. Besok lagi aja diterusin ya Bu nasehatnya. Da .... da .... Bu Ve!!!” kata Celly sambil melambaikan tangan ke arah Bu Ve tanpa melihat apa yang ada didepannya.
“Aduuh. Maap-maap. Aku gak sengaja..” kata Celly karena menabrak seorang cowok yang gak dikenalnya.
“Makanya kalau jalan mata taruh depan, jangan dibelakang terus.”
“Iya-iya maap. Ini mataku juga sudah didepan, masak mata se-gede ini kamu gak tahu?”
“Eh dah salah nyolot lagi! Awas loe nanti pulang sekolah!!!” ancam pemuda itu.
“Sok berani!” Ucap Celly pelan setelah pemuda itu agak jauh. Celly pun pergi menuju kelasnya.
“Tok..tok..tok...” Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan kelas X IPA-1.
“Siapa? Masuk!” Jawab guru yang sedang mengajar di dalam kelas tersebut.
“Saya Pak, Celly. Hehehee..” Jawab Celly sambil nyengir lalu menghampiri gurunya dan memberi salam.
“Loh-loh,, siapa yang suruh duduk? Ayo berdiri di depan, mana tugasnya buat syarat mengikuti ulangan hari ini?”
“ULANGAN??? Kog mendadak banget sih pak?”
“Udah gak usah banyak protes, mana tugasnya?”
“Aduh, tugas yang mana lagi? Aku yakin banget kalau aku belum kerja karena semalaman aku gak ngerjain tugas apapun.” Ungkap Celly dalam hati.
“Mana?? Cepet!!”
“Bentar Pak, ini masih dicari.”
“Sampe hitungan 3 gak ada silakan menutup pintu dari luar. Satu,,, dua,,, tiga,,,”
“Pak, aduh.. Pliiss pak ijinin saya ikut ulangan. Celly mohon pak!”
“Ayo cepet tutup pintunya!”
“Iya pak, iya.” Ungkap Celly pasrah.
Akhirnya Celly pun keluar dan meratapi nasip didepan pintu yang berbalutkan cat kayu berwarna biru langit. Celly hanya bisa diam dan menyiapkan mental, karena pasti Celly akan di olok-olok setiap orang yang sedang lewat.
Hampir semua orangyang lewat mengolok-olok Celly, tapi biyarpun brgitu masih ada juga yang peduli sama Celly. Dia datang dengan membawa dua ice cream ditangannya.
“Ini buat kamu?” kata cowok itu sambil memberikan satu dari ice cream yang dibawanya untuk Celly. Celly agak kaget waktu ada seorang cowok yang datang padanya, karena pada saat itu Celly menundukkan muka, jadi Celly gak tahu kalau ada yang datang.
“Buat apa?” jawab Celly malu.
“Buat dimakanlah, terima aja.”
“Terima kasih. Kamu kan yang tadi aku tabrak? Kog kamu gak marah malah peduliin aku?”
“Mau tahu? Jangan disini deh ngomongnya, gak enak. Ayo ikut aku!!”
“Kemana?”
“Kamu sudah dikeluarkan kan dari kelas? Terus ngapain cuma diam disini dengerin ejekan setiap orang yang lewat, lebih baik ngilangin penat.”
“Iya aku juga pengennya gitu. Tapi mau kemana? Lagian aku gak punya temen, temenku ada didalam kelas.”
“Maka dari itu aku yang ngajak kamu biar kamu ada temennya. Ayo!!” cowok itu sudah memegang tangan Celly dan menariknya.
“Tunggu!!! Aku mau dibawa kemana ini?” tanya Celly takut.
“Kita bolos. Keluar dari sekolah yang penuh dengan ejekan ini dan jalan-jalan keliling kota.”
“Kamu gak takut dimarahi gurumu? Aku juga gak mau kamu relain sekolah hanya buat nemenin aku?” Celly mendadak berhenti berjalan.
“Ih, siapa juga sih yang mau bolos Cuma gara-gara cewek kayak kamu. Jangan GeeR dulu donk.” Elak cowok itu.
“Lah terus ini apa namanya kalau bukan nemenin aku?”
“Aku lakuin ini karena aku....., sudah nanti aja aku jelasin dijalan. Kalau kamu gak mau ikut aku selamanya gak akan pernah aku kasih tahu alasanku.”
“Ehm, iya sudah. Ayo kita pergi.” Jawab Celly.
“Kamu tunggu di gerbang samping, biar aku ambil sepeda motorku dulu.” Kata cowok itu sambil melepaskan tangan Celly yang tidak sadar selama perjalanan dipegangnya terus.
Lima menit kemudian cowok itu datang dengan membawa sepeda vespanya berwarna biru muda. Celly yang belum pernah sama sekali menaiki sepeda kuno itu bingung sendiri bagaimana nanti dia akan duduk.
“Ayo naik!!!” kata cowok itu.
“Bagaimana naiknya? Aku kan pakek rok pendek?”
“Kamu ambil ditasku ada celanaku, biarpun pasti kebesaran buat kamu yang penting kamu bisa naik. Kamu ganti dulu. Jangan lama-lama, lima menit.”
“Hah!!! Lima menit?? Gak mungkin!! Kamar mandinya jauh.”
“Cepet, aku hitung mulai sekarang! Satu, dua, ...”
“Iya aku lari!!!” teriak Celly sambil berlari menuju kamar mandi. Cowok itu hanya tertawa melihat tingkah Celly yang seperti orang ketakutan kayak di kejar-kejar setan.
Setelah lima menit Celly pun kembali dengan penampilan yang amat lucu. Memakai baju seragam dengan dasinya berwarna merah tua dan bawahan celana jeans se-lutut yang pasti besar banget buat Celly.
“Hahahahaa... kamu lucu. Kayak ondel-ondel dibuang.” Kata cowok itu sambil tertawa setelah melihat penampilan Celly.
“Kalu kamu terus tertawa aku gak mau pergi.” Jawab Celly cemberut.
“Ok ,aku gak ketawa. Sudah siap?”
“Siap.”
Setelah Celly naik, cowok itu mulai menarik gasnya dengan lembut.
“Kamu itu orangnya gak punya rasa perhatian banget ya?” kata cowok itu.
“Kog bisa gitu? Aku tipe orang yang perhatian tuh?” Jawab Celly.
“Perhatian apa? Masak dari tadi sampe sekarang sudah aku bonceng aja kamu gak pernah tanya namaku? Iya kalau aku sudah tahu nama kamu gara-gara tadi pagi itu.”
“Hahahaaa... Kamu PeDe banget sih? Lagian siapa yang pengen tahu nama kamu? Jawab Celly sambil tertawa, menganggap bahwa itu lucu.
“Kog ketawa? Aku serius, itu tandanya kamu orang yang gak perhtian dengan orang-orang yang ada disekitarmu.
“Ehm, masak sih? Gitu ya? Iya udah deh. Mang nama kamu siapa?” kata Celly menahan kemarahan cowok itu sebelum keluar.
“Katanya gak pengen tahu namaku? Kog tanya?”
“Ehm, itu kan tadi, kalau sekarang aku pengen tahu banget.” Jawab Celly.
“Aku Messakh. Tapi dipanggil Mess aja, kelas XI IPA-1.”
“Waduh,, niat banget sih jawabnya?? Nyantai aja loh.”
“Maaf, aku niat aja, biar kamu tahu tentang aku, karena aku baru sekali ini bonceng cewek dimotor kesayanganku.”
“INI?? Motor kesayangan? Mang motor kamu satu ini aja ya?” jawab Celly dengan nada agak sedikit menghina.
“Kalau kamu tahu aku, kamu gak akan ngomong kayak gini.”
“Maksud kamu?” tanya Celly bingung.
“Berarti kamu sama kayak cewek-cewek lain. Emang bener ya? Cari cewek yang gak matre itu susah banget.”
“Eits,, tunggu-tunggu. Jangan salah sangka dulu gitu dong, aku gak seperti yang kamu kira. Aku bukan cewek matre. Kalu aku matre mana mau aku tadi naik dimotormu ini? Dah butut, kuno, jelek lagi!!!” kata Celly asal nyablak. “Eits, aduh! Bodoh, bodoh, bodoh, ngomong aku barusan? Kog bisa keceplosan sih?” kata Celly dalam hati.
“Iya, iya, iya, percaya kog.” Jawab Mess singkat.
“Mess, jangan marah ya? Maaf!!! Asal kamu tahu. Aku gak pernah mandang orang dari materinya.”
“Apa buktinya?” tanya Mess menantang minta bukti.
“Ehm,, gimana ya cara buktiinya? Aku juga bingung! Emang kamu minta bukti apa?” tanya Celly sudah kehabisan akal.
“Aku mau kamu bilang kalau kamu suka sama aku sekarang diatas motor yang kamu bilang butut ini.” Tantang Mess.
“Aaappaaa.........?????? Aku bilang suka sama orang yang gak aku kenal? Jangan ngaco deh? Omongan kamu itu mustahil banget.” Celly marah-marah karena gak terima dengan tantangan Mess.
“Ya sudah, berarti memang sudah jelas kamu gak suka sama anak yang gak punya harta alias matre.”
“Heh,, kalau omong dijaga dong!!! Pokoknya aku bukan cewek matre, dan asal kamu tahu, cewek bilang suka sama cowok lebih dulu itu hal yang sangat memalukan buat aku.. Ngerti kamu??” Nada bicara Celly sudah mencapai puncak. Celly sudah sangat kesal dan tidak terima atas perkataan Mess yang dianggapnya sebagai hinaan.
“Mbak,, kalau emang kamu gak merasa seperti itu lalu kenapa kamu mesti marah-marah kayak gitu? Kalau emang iya akui aja napa? Gak usah pakai ngelak kayak gitu..!!! biyarpun kamu terus jawab tuduhanku itu, wajahmu dan sikapmu itu sudah nunjukin kalau kamu memang matre.”
“Mess,, AKU BENCI SAMA KAMU....!!! Puas....!!!!” Celly pun langsung menangis tak tertahan di pundak Mess. Seketika Mess langsung menghentikan laju sepeda motornya itu dan memeluk Celly. Hampir setengah jam Celly menangis di dalam pelukan Mess, di pinggir jalan sambil duduk dibawah motor. Mess juga tak bicara sepatah katapun saat Celly sedang menangis dipundaknya.
“Mess,,,”
“Iya Cell, aku disini. Cell maafin aku, gak ada maksud aku buat bikin kamu nangis kayak gini.”
“Sssuuutttt... Mess, AKU SUKA KAMU.” Kata Celly seketika sambil menatap mata Mess dalam-dalam. Messakh pun tak percaya mendengar kata-kata Celly, karena pada awalnya Mess memang tak bermaksud menguji Celly sampe seperti itu. Mess hanya iseng dengan rasa ingin tahunya terhadap sifat Celly, Karena Mess seperti mempunyai perasaan lain terhadap Celly.
“Cell, maaf. Aku beneran gak.....”
“Sudah Mess,, aku gak mau kamu minta maaf lagi. Aku bilang gitu bukan karena tantanganmu yang bodoh itu, tapi karena semua yang sudah aku alami hari ini dengan kamu. Satu lagi, akan aku hapus kata-kata di kamusku yang berbunyi “tidak akan bilang suka sama cowok lebih dulu”, karena aku sendiri yang sudah melanggarnya hari ini.”
“Celly, aku cinta sama kamu. Kamu beda sama cewek lain yang gak mau terima aku dengan keadaan seperti ini. Cell, terima kasih. Kamu sudah berhasil buktiin itu ke aku. Cell, mau jadi pacarku??”
“Mess, kamu serius?”
“Iya Cell. Aku serius, peluk aku kalau kamu terima aku.” Tak lama untuk Celly memikirkan jawabannya untuk Mess, seketika Mess pun langsung dipeluk oleh Celly di bawah saksi motor butut milik Mess. Setelah itu mereka berdua mulai beranjak pulang karena tanpa terasa hari sudah menelan sang mentari.
“Oh iya Mess. Tadi katanya kamu mau cerita kenapa kamu ngajak aku bolos?” Celly menagih janji Mess.
“Oh iya, aku lupa. Beneran kamu pengen tahu?”
“Iya, sudah penasaran banget.” Kata Celly tak sabar.
“Yang jelas bukan gara-gara aku suka sama kamu terus mau nemenin kamu.”
“Ye, siapa juga yang punya fikiran kayak gitu. Jangan berprasangka buruk gitu donk.”
“Tapi benran jangan sampai marah.”
“Iya janji aku gak marah.”
“Aku lakuin itu karena aku memang selalu melarikan diri dari sekolah saat jam pelajaran, berhubung tadi aku gak punya temen, terus aku lihat kamu di ejekin banyak orang, akhirnya aku ajak kamu biyar kamu gak di ejek lagi, tapi bukan berarti aku peduli sama kamu. Hampir setiap hari, aku bosan disekolah karena selalu diawasin sama mamaku.” Kata Mess gak jelas.
“Maksudmu? Aku gak paham sama sekali.”
“Mamaku yang punya sekolah itu, jadi setiap hari aku diawasi oleh orang-orang suruhan mamaku. Aku jadi gak tenang, terus akhirnya melarikan diri seperti ini deh.”
“WHHHAAATT.....?? Serius Mess? Kamu anak Bu. Teresa? Pemilik sekolah kita?” Celly hampir tidak percaya setengah mati mengetahui keberadaan Mess yang ternyata adalah anak dari pemilik sekolahnya yang kaya raya itu.
“Iya, pliis jangan marah. Aku tidak bermaksud bohong. Aku hanya ingin mencari cewek yang tidak pandang materi. Karena itu juga aku selalu pergi dengan motor bututku ini. Tapi aku senang, akhirnya aku bisa temuin apa yang aku cari di dalam kamu Cell, cewek cantik yang juga tidak matre. AKU SAYANG KAMU CELLY.”
“Aku juga sayang kamu Mess.”
TAMAT
By : Oktafia Putri K.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar