Cintaku Bersemi di Restoran
“Percayalah ibu aku pasti bisa, doakan Via lulus dengan nilai yang memuaskan ya…!!!”
Kulihat tanggalan yang bergantung di dinding kamarku, persis di sampingnya bertengger jam dinding yang melangkah lembut, tapi menurutku itu sangat cepat. Sekarang sudah pukul 11.00 malam, tak terasa aku sudah membaca 5 buku yang tebalnya 210-229 halaman. Ujian ini menentukan nasibku untuk terus sekolah ataukah cukup sampai disini. Benar jika ayahku buruh petani dan ibuku pembantu rumah tangga, tapi aku yakin semuanya akan berubah nanti.
Ini hari terakhirku membahas materi pelajaran buat persiapan ujian, karena dua hari lagi ujian akan datang menghampiriku. Sekolah ini pasti akan jadi kenanganku yang paling konyol dan haru, terutama kenangan-kananganku dengan sahabatku Revi.
“Rev, aku gak yakin. Aku takut !!!”
“Udahlah, kamu pasti bisa kog!! Aku aja yakin banget kalau kamu pasti bisa.” Dukung Revi memberi semangat.
“Bukan masalah bisa atau gak bisanya, tapi ini nentuin masa depan aku. Kamu tahu sendirikan kalau aku gagal jadi juara pertama mungkin aku gak akan sekolah lagi…!!!”
“Ya aku tahu, sabar ya! Ayo ke kantin, udah bel istirahat nih..!!!”
Aku dan Revi berjalan ke kantin, dan saat itu aku bertemu dengan Yogik, cowok yang selalu support aku selama ini.
“Via, semoga kita semua bisa lulus ya…!!!” Yogik mengulurkan tangannya sambil menatap aku dengan tatapan yang tajam. Aku menyambut uluran tangannya dengan penuh harapan yang sama dengannya, yakni juga mengharapkan semua lulus.
“Udah ayo Via, nanti keburu bel masuk loh..!!!” Revi menarik tanganku untuk bergegas ke kentin sebelum bel masuk berbunyi. Seperti biasa aku memesan semangkuk soto dan segelas es teh. Aku aduk hingga tak aturan soto yang ada didepanku itu, tapi sayang juga kalau gak dimakan, akukan belinya pakai uang, ya saja kalau uangku banyak, inikan malah keadaan yang sebaliknya. Aku teguk es teh digelas lalu aku santap makanan yang ada dihadapanku itu.
Saat bel masuk berbunyi aku berjalan dengan santai dan sangat pelan ke kelas. Perasaan takut dan khawatir jika telat yang biasa aku rasakan kini tak terasa sedikitpun menghantuiku, seperti sirna ditelan panasnya sinar matahari.
“Via aku duluan ke kelas ya…!!!” tangan Revi menepuk pundakku dengan berlari menuju ke kelas, mungkin dia takut jika nanti telat waktu pelajarannya B.Reni. Setelah aku sampai di depan kelas, ku ulurkan tanganku untuk mendorong pintu kelas yang tidak biasanya ditutup saat pelajaran.
“Pyorrrrrrr………..pyorrrrr………….!!!!!!!! Selamat ulang tahun-selamat ulang tahun…!!!” senandung lagu itu terdengar mengalun ketika aku diguyur hujan telur di depan pintu kelas barusan. Uhh.. aku gak tahu semua rencana ini. Kenapa begitu bodohnya aku sampai-sampai aku lupa kalau hari ini aku genap berumur 16 tahun. Saat aku mengangkat wajahku untuk melihat apa yang ada di depanku, aku sangat kaget saat membuka mata, karena pada saat itu semua guru dan teman-teman sekelasku ada didalam kelas ini untuk memberikan kejutan ini buatku.
Bel tanda pulang berbunyi, aku beranjak lebih cepat dari biasanya, ku tak hiraukan panggilan cewek yang suaranya sangat aku kenal, dan pasti itu suara Revi. Aku tak tahu mengapa dia memanggilku, aku hanya membalikkan wajahku dan melontarkan senyum terpaksa, lalu dengan cepat aku langsung kembali melangkahkan kakiku untuk segera pulang dan menjemput gudang ilmu (buku) yang tertata rapi di meja belajarku. Mungkin karena tidak pernah aku buka sebelumnya jadi tatanannya tetap rapi.
Bu Lili mengumumkan jika hasil ujian akan keluar lima hari lagi. Aku berdoa supaya Tuhan berikan rencana terbaiknya bagiku. Lima hari itu lama banget ya…??? Masa sih ditunggu dari kemarin keputusannya gak keluar-keluar…?, keluhku dalam hati.
Hari ini adalah kejutan yang ditunggu-tunggu oleh semua pelajar SMP di Indonesia, dimana kejutan ini akan membuat kita haru, sedih, senang dan semua rasa manis bahkan pahit sekalipun. Aku Callista Vialine Cristy sudah siap untuk menerima semua kenyataan itu.
Suara kapala sekolah menggaung menyelimuti ratusan jiwa yang ada didalam ruangan ini. Wali murid yang terus berdatangan dan hampir memenuhi aula ini juga ikut merasakan kekhawatiran yang amat luar biasa menggoncang jiwa. Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, ini pukul 10.00 WIB yang akan menjadi sejarah dihatiku.
Kepala sekolah membacakan hasilnya mulai dari yang terbaik, dan yang akan dibacakan hanyalah prestasi sampai sepuluh besar. Saat kepala sekolah akan menyebutkan nama pertama, ayahku baru saja datang, aku langsung menghampirinya dan memeluknya. Saat aku mendengar kepala sekolah menyebut huruf pertama anak yang berprestasi aku langsung menutup telinga dan………………………………………………
“CALLISTA VIALINE CRISTY” . Ya Tuhan aku seneng banget namaku disebut menjadi juara pertama. Aku sungguh benar sangat bahagia sekali. Hiks….hiks…hiks…. tak terasa aku menerjunkan air mataku sampai tsunamipun menghantam pipiku. Ayah dan aku menguatkan kaki untuk melangkah ke depan mengambil hasil dan tanda prestasi yang diberikan kepadaku, dan yang paling aku harapkan kini terkabul, beasiswa kini berhasil kupangku dikedua telapak tangan.
Dengan ini, semua masa depan dapat kuawali mulai dari sekarang. Beasiswa ini akan menuntun kakiku melangkah kejenjang pendidikan berikutnya, dan aku akan memanfaatkan kesempatan kali ini dengan sebaik-baiknya. Tapi aku harus berjalan sendiri sekarang, karena beasiswa yang aku dapatkan memaksa aku untuk meninggalkan kehidupanku yang sekarang, mulai dari keluarga, teman-teman, rumahku, desaku dan semua yang aku miliki sekarang. Aku hanya dapat mengucapakan terimakasih dan selamat tinggal buat semuanya. Sekarang hidupku diselubungi kesepian. Disini akan dimulai kisahku yang baru sebagai remaja sekolah.
Ku kira satu jam itu bukan waktu yang singkat untuk menempuh perjalanan, tapi ternyata perjalanan yang aku tempuh tidak hanya satu jam untuk menyelam ke tempat dimana aku akan membuka lembaran baru. Aku sampai dibatas kota setelah tiga jam, tapi tapi tempat yang aku tuju bukan dibatas kota, melainkan didalam kota, jadi aku harus menempuh setengah jam lagi.
Duduk terlalu lama diatas motor ternyata membuat bokong itu panas ya...? Uhh,,, semakin jauh, semakin jauh, dan semakin jauh aku meninggalkan tanah kelahiranku. Ehm... aku tidak sadar bahwa sekarang aku sudah berdiri dan meninggalkan motor yang aku naiki tadi, sekarang aku sudah sampai ditempat ini, disini. Tempat yang memang merupakan tujuanku.
Aku terdampar disini, ditempat yang bertembok dilapisi perpaduan cat berwarna pink blue dan pintu yang diolesi berbagai hiasan berwarna hijau muda. Aku mendorong pintu itu dan kulihat kembali dunia baru. Langit-langitnya berwarna biru keabu-abuan, sudah tersiap rapi ranjang yang akan menampung badanku setiap hari, lemari dari kayu yang bertekstur menawan dengan motif yang dapat memikat hati setiap pemandangnya.
Ini kenyataan...??? Iya,, ternyata ini memang bukan mimpi. Kuperkenalkan, inilah dia kamarku, kamar baruku. Ini ranjangku, lemariku, dan ini ‘kostanku’. Aku akan menjalani hari-hari depanku disini.
“Tit,,,,tit,,,,tit,,,,” hello kitty disampingku sudah berteriak, merintih supaya aku mau membuka mata, melipat selimut, dan bangun untuk mematikan jam beker itu. Iya... jam beker yang berbentuk hello kitty inilah yang selalu setia menemani aku, mengingatkan aku, dan terus bekerja buat aku (jika baterainya tidak habis, kalau habis ya tidak kerja dong!! Alias mati).
Aku berangkat kesekolah baruku dengan semangat yang menyala-nyala, meskipun pagi itu aku belum menyantap apapun seperti yang biasa aku lakuin didesa, tapi aku terlihat sangat semangat. Aku bergegas dengan motivasi jika aku akan mendapatkan sekolah baru yang jauh lebih baik dari sekolah yang ada didesaku. Kenyataannya, ternyata memang benar, yang ada dibenakku kini sudah jadi kenyataan.
Awal yang menyenangkan buat aku, karena kedatanganku disambut gembira oleh murid-murid baru lainnya. Sesaat kemudian aku mendapatkan gadis kecil yang imut, lucu dan mungil. Dia sedang menginjakkan kakinya di lantai sebuah ruangan dimana aku juga berada disitu. Aku menggerakkan bibirku untuk melontarkan beberapa kalimat kepada gadis kecil itu.
“Hey.... duduk disini aja...! Masih kosong kok...!!!” lalu aku berdiri sambil melambaikan tangan untuk menyapa gadis berambut panjang itu (rambutnya panjang banget loh, sudah gitu hitam pekat lagi....!!!).
“Iya, terima kasih ya..!!” katanya sambil mengulurkan tangan ke padaku. Kutangkap tangan itu sambil menghiasi wajahku dengan senyum termanisku. “Ehm,,, sama-sama. Aku Callista Vialine Cristy, tapi biar gak terlalu ruwet panggil aja Via!!!”. “Ok Via,,, kalau aku Vian...”.
Ohw,,, ternyata namanya Vian, hampir sama dengan aku ya?? Cukup mengesankan aja sih, dia anaknya hitam manis sama dengan aku, rambutnya panjang sama dengan aku, dan kalau dilihat-lihat dari kejauhan 100 meter, pasti orang lain yang tidak tahu akan menganggap aku adalah adik kakak dengan Vian. Ehm,,, tidak usah dari kejauhan 100 meter, anak-anak dikelas saja ternyata juga mengira aku berkakak adik dengannya.
Aku dan Vian memang ditakdirkan untuk bertemu mungkin ya? Hari-hari baruku disekolah kini selalu aku jalani bersamanya. Memang benar dia sudah aku anggap sebagai saudaraku, begitupun dia. Segala sesuatu entah itu suka atau duka yang kita alami dan kita rasakan, baik yang berhubungan dengan keluarga, sekolah, bahkan pacarpun selalu kita sheringkan bersama.
Tapi teman baruku bukan cuma Vian saja loh!! Akukan anak kost, pasti jelas kalau temanku dirumah lebih banyak. Ada enam orang yang tinggal dengan aku sekarang. Mbak Ita, mbak Risna, mbak Khusnul, mbak Rini, mbak Karin, dan mbak Ina. Semua aku panggil mbak nih, soalnya aku penghuni termuda disini. Tapi ada juga yang seumuran dengan aku, namanya Veda. Dia itu cucunya ibu dan bapak kos aku, tapi dia tidak tinggal serumah disini, mungkin kalau pulang sekolah saja dia mampir. Est,,, aku lupa, disini juga ada ibu dan bapak kos aku, namanya B.Rose dan P.Bambang. itulah keluargaku sekarang. Oh ya,,, ditambah aku jadi ada sembilan orang dibawah satu atap ini, tapi aku belum tahu sifat mereka masing-masing.
Veda adalah yang terbaik dari yang terbaik. Maksudku, dari delapan orang yang tinggal bersamaku dan menjadi keluargaku sekarang, Vedalah yang paling bisa mengerti akan diriku. Veda, dia selalu berbagi dengan aku. Kalau disekolah mungkin seperti Vian dan kalau dikampungku seperti Revi. Mereka sahabat-sahabatku yang baik. Dia tidak begitu nyambung jika sudah menyangkut tema bahasan cowok, karena mulai dari SD sampai SMP dia baru pacaran dua kali. Itu saja waktu sudah kelas tiga SMP. Jadi dia sering banget tanya ke aku jika sudah mengenai cowok. Bisa dikategorikan anak yang alim nih!!!
Mbak Ita, rambutnya ikal pendek, kulitnya sawo mateng, anaknya kecil, dan dialah yang menjadi kakak semua penghuni kost. Baik sih, tapi kadang-kadang juga sering nyebelin. Mungkin karena dia yang tertua, jadi dia yang sering banget nasehatin aku. Kalau dinasehati baik-baik semua orang masih bisa terima, ini nasehatnya sambil nyindir-nyindir, pantes sajakan aku kesel.
Mbak Risna, cewek paling tinggi dikostanku. Kulitnya kuning langsat, cantik dan aku nyambung banget sama dia. Biarpun anaknya suka nyindir, tapi dia baik. Sindiran yang keluar dari mulutnya tidak pernah diberikan kesesama penghuni kost, di hanya menyindir musuh-musuhnya saja disekolah. Orangnya juga enak, gak pelit.
Mbak Khusnul, kulitnya hitam manis, tingginya semampai, rambutnya tebal. Dia sekamar sama mbak Risna. Orangnya juga enakan, juga satu lagi dia pinter gambar loh!!
Mbak Rini, dia yang paling kaya disini. Tapi orangnya gak sombong. Cuma dia sering gak ikut ngumpul waktu rapat warga kost, karena dia terlalu sibuk sama pekerjaannya.
Mbak Karin, uhh..... dia penghuni paling keren disini. Cewek yang satu ini pasti mudah diinget, soalnya dia tomboy abis. Sifatnya yang paling tidak disegani sama warga kost yaitu dia suka pamer. Saking seringnya dilakuin, kami semua sudah tidak kaget sama tingkahnya dia yang kayak gitu.
Mbak Ina, cewek satu ini paling pendiam dikostan. Sehari 24 jam dia hanya keluar kamar saat sekolah saja. Mungkin sehari cuma bicara sekali dengan aku. Ehm,,,kalau gini caranya gimana bisa akrab ya???
Dari ketujuh warga kost, yang sering banget ngumpul-ngumpul adalah aku, mbak Risna, sama mbak Khusnul. Kita selalu ngumpul dikamar paling pojok belakang sendiri, yang pastinya itu adalah tempat kediaman dua gadis itu. Banyak aktivitas yang kita lakukan dikamar itu. Contohnya saja konser-konser kayak orang stres, maklum cita-cta ketemu Pasha Ungu belum kesampaian, jadi kasur yang fungsinya buat melenyapkan rasa letih, kini ganti fungsi jadi panggung orang stres beraksi. Disini kita biasanya juga membuat riasan model-model rambut, ehm... alamat rambutku yang jadi bahan percobaan. Selain itu, kegiatan yang paling sering kita lakukan disarang itu adalah curhat-curhat. Kalau sudah bicarain perasaan, kita kuat bertahan sampai tiga jam dikandangnya mbak Risna sama mbak Khusnul itu.
Sebenarnya sih kita pengennya semua warga kos bisa ikut ngumpul bareng-bareng seperti ini, tapi mbak-mbak lainnya tetap saja tidak bisa. Alasannya dari dulu sama saja, katanya masih banyak kerjaan. Kita sih gak maksa, cuma pengen saja kalu semua bisa kumpul-kumpul bareng, cerita-cerita, atau yang lainnya deh. Kan kalau dengan seperti itu kita bisa lebih bersaudara. Jika bukan kita yang mengusahakannya mau siapa lagi? Iya gak? Gak mungkinkan dengan keadaan seperti ini tiba-tiba persaudaraan akan datang dengan sendirinya? Pasti semua itu perlu dibina.
Oh ya, aku belum jelasin sifat B.Rose sama P.Bambang, tapi jujur aku memang gak bisa jelasin sifat mereka. Kalau ingin tahu sifat mereka kalian buka saja lembar berikutnya. Lalu kalian simpulin sendiri sifat mereka bagaimana. continue ...
by : Oktafia Putri K.
like....like
BalasHapus.
.
.gug sabar nunggu.in kelanjutan.x
;
;semangat buat nulis.x
:)
wahahaha ...
BalasHapusaku g punya blog bisa coment.a ?
apik mbaknya ..
next episode .. jebbal .. ^^
Mkasiih...
BalasHapussbar iia buat klnjutannxa...
sgera q post kan.. :)